Warta Minggu, 16 Agustus 2026
Warta Minggu, 16 Agustus 2026
Jika Negaramu tidak Baik-Baik saja….
Di tengah peringatan kemerdekaan Indonesia, berbagai data ekonomi—seperti meningkatnya angka PHK, penurunan saldo rekening masyarakat, dan maraknya utang—menunjukkan realitas bahwa kondisi bangsa kita sedang tidak baik-baik saja. Menghadapi situasi ini, anak Tuhan sering kali terjebak pada dua sikap pasif: menjadi cuek (hanya mementingkan keamanan diri sendiri) atau sekadar memberikan kritik (meluapkan ketidakpuasan di media sosial).
Melalui kisah Nehemia, Alkitab menawarkan teladan dan opsi respon yang berdampak nyata bagi bangsa:
1. BACK: Berdoa dan Kembali kepada Tuhan (Neh. 1:4-8)
Saat mendengar berita kehancuran tembok Yerusalem dan penderitaan bangsanya, Nehemia tidak bersikap acuh tak acuh ataupun menyalahkan orang lain. Langkah pertamanya adalah berpuasa, menangis, dan berdoa di hadapan Allah. Dalam doanya, ia menyatukan dirinya dengan bangsa Israel, mengakui dosa-dosa kaumnya, serta memegang teguh janji pemulihan Allah.
Sebagai umat Tuhan, kita dipanggil untuk tidak jemu menaikkan doa syafaat bagi bangsa, Presiden, para pejabat, serta perekonomian dan pendidikan negara agar kita dapat hidup tenang dan tenteram (1 Timotius 2:1–2).
2. BOLD: Mengambil Perencanaan dan Langkah yang Berani (Neh. 2:1-8)
Setelah berdoa, Nehemia bertindak dengan berani. Meski berada di posisi aman sebagai juru minuman raja Persia, ia rela keluar dari zona nyaman dan mengambil risiko dengan meminta izin serta bantuan Raja Artahsasta untuk membangun kembali Yerusalem. Perencanaannya matang dan langkahnya sangat berani.
Membawa dampak bagi bangsa menuntut ketaatan untuk melangkah dalam iman. Kita perlu berani mencoba hal baru—baik dalam bisnis, hubungan, maupun pelayanan misi—serta peka mengikuti dan menaati setiap arahan Tuhan.
3. BUILD: Membangun Kembali dengan Sekuat Tenaga (Neh. 2:9-18)
Ketika Nehemia membagikan visinya, rakyat bangkit dan berkomitmen untuk membangun kembali tembok yang runtuh dengan sekuat tenaga. Membangun ulang sesuatu yang telah rusak bukanlah hal yang mudah, tetapi hal itu sangat krusial.
Pembangunan berdampak yang paling mendasar dimulai dari rumah tangga. Fenomena banyaknya anak yang kehilangan figur ayah menegaskan pentingnya membangun hubungan yang sehat antara suami, istri, dan anak. Membangun keluarga yang kuat dengan sekuat tenaga—melalui waktu yang berkualitas dan saling mengasihi—adalah fondasi dan hadiah terindah yang dapat kita berikan bagi kemajuan bangsa.
Kesimpulan
Saat kondisi negara sedang tidak baik-baik saja, alih-alih cuek atau mengkritik, marilah kita kembali bertekun dalam doa (Back), melangkah dengan berani dalam ketaatan (Bold), serta membangun keluarga dan lingkungan kita dengan sekuat tenaga (Build).
%20(10).jpg)
%20(1).jpg)






Comments
Post a Comment