Warta Minggu, 26 Juli 2026
Warta Minggu, 26 Juli 2026
DUA ANAK, SATU MASALAH
Refleksi Lukas 15:11–32
Pendahuluan: Lukas 15 muncul karena pemungut cukai dan orang berdosa datang kepada Yesus, sementara orang Farisi dan ahli Taurat bersungut-sungut karena Yesus menerima dan makan bersama mereka. Karena itu Yesus menyampaikan tiga perumpamaan: domba yang hilang, dirham yang hilang, dan dua anak yang hilang. Kita sering mengira hanya si bungsu yang hilang. Padahal, sampai akhir cerita, kita menemukan dua anak yang sama-sama terhilang. Yang satu meninggalkan rumah; yang satu terhilang di dalam rumah. Yang satu mengejar kesenangan dunia; yang satu terjebak dalam kesombongan dan rasa diri benar. Yang satu ingin harta tanpa Bapa; yang satu ingin upah karena merasa berjasa kepada Bapa. Dengan demikian, perumpamaan ini bukan hanya tentang anak yang pergi, tetapi tentang hati manusia yang kehilangan hubungan dengan Bapa.
BUNGSU: TERHILANG DARI RUMAH KARENA MENGEJAR KESENANGAN DUNIA
Ketika anak bungsu meminta warisan, sesungguhnya ia sedang berkata, “Aku lebih membutuhkan hartamu daripada dirimu.” Ia pergi ke negeri yang jauh. Awalnya kebebasan terasa menyenangkan: tidak ada aturan, tidak ada yang melarang, dan tidak ada yang menegur. Namun kebebasan tanpa Tuhan akhirnya berubah menjadi perbudakan. Ia kehilangan harta, teman, harga diri, bahkan akhirnya harus menjaga babi—pekerjaan yang sangat hina bagi orang Yahudi. Dunia sering menunjukkan awal yang indah, tetapi Tuhan melihat akhir perjalanan. Banyak orang berkata, “Saya mau menikmati hidup dulu.” Perlahan mereka berhenti berdoa, menjauh dari gereja, mengejar karier, bisnis, hiburan, atau media sosial. Semua itu tidak selalu salah. Namun jika semuanya membuat kita semakin jauh dari Tuhan, itulah “negeri yang jauh.” Pertanyaan kita: Apa yang hari ini membuat saya semakin jauh dari Tuhan? Apa yang lebih saya cintai daripada Tuhan? Jika ada, hari ini adalah waktu untuk pulang.
SULUNG: TERHILANG DI DALAM RUMAH KARENA MERASA DIRI PALING BENAR
Si sulung tidak pernah meninggalkan rumah. Ia rajin bekerja dan melayani. Tetapi ketika adiknya pulang dan dirayakan, ia marah. Ia merasa, “Aku sudah lama melayani. Mengapa dia yang dirayakan?” Masalahnya bukan pada adiknya, tetapi pada hatinya. Ia tinggal di rumah Bapa, tetapi tidak menikmati kasih Bapa. Orang yang paling jauh dari Tuhan belum tentu berada di luar gereja. Bisa saja ia rajin beribadah dan melayani, tetapi mudah tersinggung, suka membandingkan, sulit mengampuni, dan merasa paling benar. Jangan hanya bertanya, “Apakah saya masih ke gereja?” Tanyakan juga, “Apakah hati saya masih ada untuk Tuhan?”
BAPA TETAP MENCARI KEDUANYA
Ketika si bungsu pulang, Bapa berlari menyambutnya. Ketika si sulung marah, Bapa juga keluar menemuinya. Bapa mencari keduanya: anak yang berdosa dan anak yang merasa benar. Kasih karunia bersukacita ketika orang berdosa pulang. Karena itu, ketika seseorang yang dahulu hidupnya buruk bertobat dan dipakai Tuhan, hati Bapa berkata, “Puji Tuhan, hidupnya dipulihkan!” Bukan, “Jangan cepat percaya.” Kadang kita seperti si bungsu. Kadang seperti si sulung. Karena itu pertanyaan Yesus bukan, “Kamu anak yang mana?” Melainkan, “Apakah kamu mau kembali kepada hati Bapa?”
Ada yang jauh karena dosa. Ada yang jauh karena kesombongan rohani. Tetapi siapa pun yang mau kembali kepada hati Bapa akan mengalami sukacita pemulihan.
Oleh: Pdt. Priyoadi
%20(7).png)
%20(1).jpg)







.png)
Comments
Post a Comment