Warta Minggu, 22 Maret 2026
Warta Minggu, 22 Maret 2026
PRICE vs VALUE
Dalam kehidupan modern, kita sering diajar untuk menghitung price (harga), tetapi jarang diajar memahami value (nilai). Kita terbiasa bertanya, “Berapa harganya?” tetapi jarang bertanya, “Apa makna/manfaatnya?” Padahal, hidup yang benar bukan ditentukan oleh seberapa mahal sesuatu, melainkan oleh seberapa bernilai sesuatu bagi jiwa, relasi, dan kekekalan.
Ada orang yang rela membayar mahal untuk hal yang sebenarnya tidak bernilai. Misalnya, seseorang membeli barang mewah hanya agar terlihat sukses. Secara price, itu mahal. Tetapi secara value, belum tentu memberi damai atau makna hidup. Ada juga yang menghabiskan waktu berjam-jam mengejar hiburan tanpa batas. Waktu yang dihabiskan mungkin terasa menyenangkan, tetapi seringkali tidak menghasilkan pertumbuhan karakter atau kedewasaan rohani. Kita pun melihat banyak orang bekerja tanpa henti demi meningkatkan pendapatan, tetapi tanpa sadar kehilangan moment berharga bersama keluarga. Mereka menukar kehangatan hubungan dengan angka di rekening. Di sini terlihat jelas: price yang besar tidak selalu menghasilkan value yang besar.
Sebaliknya, ada banyak orang yang menolak hal sederhana yang justru memiliki nilai kekal. Misalnya, doa. Banyak yang menganggap doa itu sederhana, bahkan sepele. Padahal doa adalah fondasi kekuatan batin dan relasi dengan Tuhan. Membaca firman Tuhan juga sering dianggap tidak menarik dibandingkan aktivitas lain. Namun firman adalah arah hidup yang menjaga kita dari kesalahan fatal. Demikian pula dalam relasi keluarga. Duduk bersama, makan bersama, atau mendengarkan cerita anak mungkin terlihat sederhana. Tetapi dari kebiasaan kecil itu, lahir kepercayaan, kelekatan emosional, dan rasa aman yang akan membentuk masa depan anak.
Dalam hubungan/relasi antar sesama manusia - jemaat, kata “maaf” sering dianggap kecil dan mudah. Namun justru di sanalah nilai besar tersembunyi. Banyak konflik berkepanjangan terjadi karena orang menolak melakukan langkah sederhana ini. Gengsi membuat mereka menolak value yang sebenarnya dapat menyembuhkan luka hati. Dalam dunia pendidikan, disiplin kecil seperti bangun tepat waktu, belajar rutin, dan bertanggung jawab atas tugas sering dianggap sepele. Namun dari kebiasaan sederhana itu terbentuk karakter yang menentukan masa depan.
Masalah utama manusia adalah kecenderungan menilai hidup berdasarkan tampilan luar. Kita mudah terpesona oleh yang mahal, besar, dan terlihat mengesankan. Tetapi Tuhan sering bekerja melalui hal yang sederhana, bahkan biasa. Nilai sejati tidak selalu datang dengan kemasan spektakuler. Justru sering kali, nilai kekal hadir dalam tindakan kecil yang dilakukan dengan hati yang benar.
Oleh karena itu, kita perlu melatih kepekaan rohani untuk membedakan antara price dan value. Jangan sampai kita menjadi kaya dalam hal materi tetapi miskin dalam makna hidup. Jangan sampai kita mengejar pengakuan dunia tetapi kehilangan damai sejahtera. Dan jangan sampai kita menolak hal sederhana yang sebenarnya menjadi kunci pertumbuhan iman dan kebahagiaan sejati.
Hari ini, mari kita bertanya pada diri sendiri: apakah kita sedang mengejar sesuatu hanya karena mahal, atau karena benar-benar bernilai? Apakah kita menghargai kebiasaan kecil yang membangun jiwa? Hidup yang bijaksana bukanlah hidup yang selalu memilih yang paling mahal, tetapi hidup yang mampu memilih yang paling bermakna. Karena pada akhirnya, yang menentukan kualitas hidup bukanlah price yang kita bayarkan, melainkan value yang kita hidupi.
by: Priyo
%20(34).jpg)
%20(1).jpg)
.jpg)






.jpg)
Comments
Post a Comment