Warta Minggu, 26 Oktober 2025
Warta Minggu, 26 Oktober 2025
SATU: Warisan Sumpah Pemuda dan Kekuatan Kesatuan dalam Kristus
Sumpah Pemuda, yang diperingati setiap 28 Oktober, bukanlah sekadar catatan sejarah yang dihafal. Ia adalah sebuah monumen hidup, sebuah respons tegas terhadap strategi penjajahan yang paling merusak: Divide et Impera. Selama ratusan tahun, penjajah Belanda mempertahankan kekuasaan mereka di Nusantara bukan hanya dengan senjata, tetapi dengan politik pecah belah.
Divide et Impera, secara harfiah berarti "pecah belah dan kuasai". Tujuannya adalah memecah kelompok besar yang berpotensi menjadi ancaman, menjadi faksi-faksi kecil yang saling bermusuhan, sehingga lebih mudah dikendalikan.
Strategi ini dijalankan dengan licik. Belanda sering memanfaatkan konflik internal di dalam kerajaan, seperti perebutan takhta. Mereka akan menawarkan "bantuan" militer kepada salah satu kubu. Sebagai imbalannya, pihak yang menang harus menandatangani perjanjian yang merugikan, entah itu menyerahkan wilayah atau memberikan hak monopoli dagang.
Akibatnya sangat fatal. Timbul rasa saling tidak percaya antar suku, agama, dan golongan. Lahirlah berbagai stereotip yang merendahkan. Bangsa yang besar ini terpecah belah menjadi kelompok-kelompok kecil yang menolak bekerja sama, dan akhirnya, menjadi lemah.
Itulah mengapa Sumpah Pemuda begitu krusial. Pada tahun 1928, para pemuda dari Jong Java, Jong Batak, Jong Minahasa, Jong Celebes, dan lainnya, memutuskan untuk menanggalkan ego kedaerahan mereka. Mereka berkomitmen dalam sebuah kerjasama lintas-batas, menyatakan bahwa mereka adalah SATU: Satu Tanah Air, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa Persatuan, Indonesia.
Pesan inti mereka jelas: KESATUAN.
Sebagai anak Tuhan, seruan untuk bersatu ini memiliki gaung spiritual yang mendalam. Jauh sebelum Sumpah Pemuda, Yesus telah mendoakan kita dalam Yohanes 17:21, "...supaya mereka semua menjadi satu... agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya..."
Mengapa kesatuan begitu penting? Karena di balik kesatuan ada kekuatan yang luar biasa. Apa yang tidak bisa dilakukan sendiri, bisa dilakukan bersama. Ada dampak eksponensial ketika ada kerjasama.
Alkitab bahkan mencatat contoh negatif dari kekuatan kesatuan ini, yaitu pada peristiwa Menara Babel. Tuhan sendiri berfirman dalam Kejadian 11:6, "...mulai dari sekarang apa pun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana." Kesatuan ini menjadi berbahaya karena arahnya salah: didasari kesombongan dan pemberontakan melawan Tuhan.
Ini membawa kita pada dua pelajaran penting:
1. Sumber Kesatuan Sejati adalah Kristus
Kesatuan Menara Babel hancur karena sumbernya adalah kebanggaan manusia. Kesatuan sejati, yang bertahan, adalah kesatuan vertikal antara Allah dan manusia. Yohanes 17:23 mengatakan, "Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu..."
Kesatuan ini dimulai dari unit terkecil yang Tuhan rancang, yaitu pernikahan (Markus 10:9). Hanya di dalam Kristus, perbedaan-perbedaan yang memecah belah kita—suku, status sosial, latar belakang—dapat dijembatani. Galatia 3:28 menegaskan, "...tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani... karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus."
2. Akibat Kesatuan adalah Kekuatan
Ketika kita bersatu dalam Kristus, akibatnya adalah kekuatan spiritual. Yesus berjanji dalam Matius 18:19-20, "Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan..." Ini bukan kekuatan "demo" untuk memaksa Tuhan, melainkan kekuatan yang lahir dari hati yang "sehati" dan "sepakat" dengan rencana-Nya.
Sumpah Pemuda adalah warisan sejarah bahwa bangsa kita kuat saat bersatu. Injil adalah warisan ilahi bahwa kita, sebagai gereja, menjadi saksi yang kuat bagi dunia ketika kita hidup dalam kesatuan.
%20(9).jpg)
%20(1).jpg)




.jpg)

.jpg)
Comments
Post a Comment