Warta Minggu, 28 September 2025
Warta Minggu, 28 September 2025
DARI ORANG BIASA MENJADI LUAR BIASA
Hari ini kita belajar dari kehidupan seorang nabi yang bernama Elisa. Ia menerima pengurapan dua kali lebih besar daripada gurunya, nabi Elia. Nama Elisa berarti “Allah adalah keselamatan”. Ia melayani sebagai nabi di kerajaan Israel Utara sekitar tahun 850–800 SM, pada masa pemerintahan Yoram, Yehu, Yoahas, dan Yoas. Awalnya, Elisa hanyalah seorang petani yang tinggal bersama orang tuanya di Abel-Mehola. Namun, Allah mengangkatnya dari kehidupan sederhana menjadi seorang nabi besar. Apa rahasia hingga Elisa, orang biasa, bisa dipakai Tuhan menjadi luar biasa?
1. Elisa adalah orang pilihan & mau meresponi panggilan Allah
Dalam 1 Raja-raja 19:15–16, Tuhan memerintahkan Elia untuk mengurapi Elisa bin Safat sebagai nabi penggantinya. Elisa dipilih secara khusus untuk melanjutkan pekerjaan yang telah dilakukan Elia. Demikian pula kita, ketika percaya kepada Yesus, kita adalah pilihan Allah untuk melanjutkan misi-Nya, yakni Amanat Agung: menjadikan semua bangsa murid Kristus.
Sering kali kita meragukan diri sendiri karena latar belakang, keterbatasan, atau masa lalu. Namun firman Tuhan dalam Roma 8:29 menegaskan bahwa sejak semula kita telah ditentukan untuk serupa dengan Kristus. Paulus juga menulis dalam 1 Korintus 1:27 bahwa Allah memilih yang lemah untuk mempermalukan yang kuat, dan yang bodoh untuk mempermalukan yang berhikmat.
Artinya, Tuhan tidak melihat status, pendidikan, atau kedudukan, tetapi hati yang mau dipakai-Nya. Setiap orang berharga dan mulia di tangan Tuhan.
2. Elisa adalah Pelayan yang Sungguh-sungguh
Ketika Elia melemparkan jubahnya ke atas Elisa (1 Raja-raja 19:20), saat itu juga Elisa langsung meninggalkan lembunya dan berlari mengikuti Elia. Ia hanya meminta waktu sebentar untuk berpamitan dengan orang tuanya, lalu ia segera mengambil keputusan untuk melayani. Elisa tidak menunda, tidak beralasan, dan tidak setengah hati.
Pelayanan Elisa menunjukkan kesungguhan dan loyalitas. Dalam 2 Raja-raja 2, ketika Elia hendak diangkat ke surga, ia berulang kali meminta Elisa untuk berhenti mengikutinya. Namun Elisa tetap teguh menyertainya sampai akhir perjalanan, dari Gilgal, Betel, Yerikho, hingga menyeberangi Sungai Yordan. Hal ini mencerminkan ketaatan, ketekunan, dan kesetiaan seorang murid terhadap pemimpinnya. Bagi kita, keselamatan adalah anugerah, tetapi kasih kita kepada Tuhan seharusnya diwujudkan dengan kesungguhan dalam melayani-Nya melalui apa pun profesi kita.
3. Elisa Meminta Warisan dari Surga
Setelah menyeberangi Sungai Yordan, Elia bertanya apa yang diinginkan Elisa sebelum ia terangkat ke surga (2 Raja-raja 2:9–10). Elisa tidak meminta kekayaan, kedudukan, atau kemuliaan duniawi, melainkan memohon agar mendapat dua bagian dari roh Elia. Permintaan ini menunjukkan kerinduan yang dalam untuk mengalami kuasa Allah dan melanjutkan pelayanan demi kemuliaan-Nya.
Sering kali kita datang beribadah dengan motivasi hanya untuk meminta kebutuhan jasmani: kesehatan, jodoh, rezeki, atau kelancaran usaha. Hal itu tidak salah, sebab kita masih hidup di dunia. Namun, Elisa mengajarkan kita untuk melihat dengan mata rohani—bahwa yang terpenting bukanlah berkat duniawi, melainkan pewarisan rohani yang membuat hidup kita menjadi saksi bagi kemuliaan Allah.
Dari kisah Elisa, kita belajar bahwa orang biasa bisa dipakai Tuhan menjadi luar biasa ketika:
1.Menyadari bahwa kita adalah pilihan Allah.
2. Sungguh-sungguh mengikuti dan melayani-Nya dengan setia.
3. Meminta hal-hal rohani yang menyatakan kemuliaan Tuhan.
Kiranya kita pun hidup dengan kerinduan yang sama seperti Elisa, agar hidup kita dipakai menjadi alat mulia di tangan Allah.
Tuhan Memberkati...
%20(5).jpg)
%20(1).jpg)






.jpg)
Comments
Post a Comment