Warta Minggu, 19 Januari 2025
Warta Minggu, 19 Januari 2025
“ Iman
Karena Percaya Bukan Melihat “
Salah
satu ciri-ciri kita lebih dalam dengan Tuhan adalah memiliki IMAN yang besar,
IMAN yang percaya bukan karen melihat, IMAN yang bukan keyakinan kosong, melainkan
percaya penuh terhadap rencana dan janji Tuhan.
Dalam
perjalanan rohani setiap orang, kisah Abraham merupakan inspirasi yang
luar biasa. Abraham, seorang tokoh Alkitab yang terkenal karena imannya,
mengajarkan kita tentang arti iman percaya tanpa
melihat. Abraham, sering disebut sebagai “Bapa Orang Beriman,” adalah contoh
utama dari iman yang
murni dan tidak tergoyahkan. Kisahnya, yang diceritakan dalam Alkitab,
menunjukkan bagaimana ia mempercayai Tuhan, bahkan ketika apa yang dijanjikan
tampak mustahil.
Mulai dari meninggalkan tempat tinggalnya, menuju tanah Kanaan (Kejadian 12:1-4), menunggu anak hingga bertahun-tahun (Kejadian 18:10-14), hingga mengorbankan anaknya sendiri (Kejadian 22:1-19), tidak diragukan bahwa imannya sungguh luar biasa. Abraham mampu melalui semuanya itu. Jika ia mampu memiliki iman yang besar, tentu kita pun bisa memilikinya.
Bagaimana kita bisa memiliki IMAN yang besar :
1. Percaya Tanpa Melihat (Live by
Faith, Not by Sight)
Abraham percaya kepada Tuhan ketika Ia berjanji akan memberinya keturunan meskipun pada usia lanjut (Kejadian 15:5-6). Iman seperti ini menunjukkan kepercayaan yang mendalam, tidak bergantung pada kondisi fisik atau kemungkinan. Berapa banyak kita mau melihat hasil dulu, baru percaya? Berapa banyak kita meminta “jaminan” kepada Allah baru beriman? Iman kita adalah percaya, meski belum kelihatan (2 Korintus 5:7). Di situlah tantangannya. Bukan karena hasil atau jaminan, namun karena kita percaya akan kuasa Tuhan.
2. Ketaatan Mutlak
Abraham
menunjukkan iman melalui ketaatannya.
Ketika Tuhan memerintahkan dirinya untuk meninggalkan tanah kelahirannya dan
pergi ke tempat yang akan ditunjukkan-Nya, Abraham taat (Kejadian 12:1-4). Ini adalah iman yang aktif, bukan pasif.
Dalam beriman, bisa saja kita percaya bahwa Tuhan akan melakukan segalanya. Sementara kita berpangku tangan saja. Tentu, ini keliru. Jika kita mengaku beriman, kita punya bagian untuk dikerjakan.
3. Percaya dalam Kesulitan
Bahkan
dalam ujian yang
paling berat, saat diminta untuk mengorbankan putranya, Ishak, Abraham
tetap percaya (Kejadian 22:1-18). Ini
menunjukkan bahwa iman sejati tetap teguh meskipun dalam ujian dan kesulitan.
Beratnya ujian dalam hidup justru adalah kesempatan bagi kita berserah kepada Tuhan. Ketika pekerjaan lancar, bisnis bagus, dan semua berjalan aman-aman saja, kita cenderung mengandalkan kekuatan sendiri. Ketika semua jalan tertutup, itulah saatnya Tuhan bekerja.
4. Bergantung Pada Janji
Tuhan
Abraham percaya pada janji Tuhan dan menunggu dengan sabar. Ini mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa dan tetap percaya meskipun belum melihat bukti dari janji tersebut. Tulis Rasul Paulus pada 2 Korintus 1:20, “Sebab Kristus adalah ”ya” bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan ”Amin” untuk memuliakan Allah.”
Iman Abraham adalah teladan bagi kita semua. Seperti yang dikatakan dalam Ibrani 11:1, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” Jika kita tidak lelah dan mundur, pada saatnya nanti kita akan memetik buahnya.
Mari kita berusaha mengembangkan iman yang seperti Abraham, iman yang tidak didasarkan pada apa yang kita lihat, tetapi pada kepercayaan mutlak kita kepada Tuhan.
%20(86).jpg)
%20(10).jpg)





.jpg)

Comments
Post a Comment