Warta Minggu, 24 Maret 2024

 Warta Minggu, 24 Maret 2024

ZAKHEUS DIUBAHKAN
Luk 19:1-10    – Santino Widjaja –

Kisah Zakheus sangat menarik, karena menceritakan bagaimana seorang yang sangat berdosa mengalami “perubahan yang drastis” ketika berjumpa dengan Yesus.

Kita akan mengamati ada 3 perubahan drastis dalam diri Zakheus.

1. Perubahan Gambar Diri (ay.5)

Kita bisa yakin bahwa Zakheus sekalipun seorang yang kaya, namun dia mengalami pergumulan dalam gambar dirinya. Dia tertekan dalam 2 sisi:

(1) Dari sisi ketidaksempurnaan Fisik
[a] Secara fisik, dia sendiri tentu merasa tidak puas dengan penampilannya. → ini menyebabkan ketertolakan dari dirinya sendiri.

[b] Ditambah lagi, pada jaman itu, orang yang memiliki kekurangan dalam segi fisik, itu sering dianggap krn kena kutukan thd dosa (Yoh 9:1-2).  → Ini menyebabkan dia merasa ketertolakan dari Allah.

[c] Lagipula pada jaman itu, sikap masyarakat terhadap orang tidak normal secara fisik tidak seramah jaman moderen ini. Mereka sering dijadikan bahan tontonan dan ejekan.  → Ini menyebabkan dia mengalami ketertolakan sosial.

2. Dari sisi Profesi
Profesi pemungut cukai pada jaman itu adalah profesi yang paling dibenci. Karena mereka dianggap sebagai antek penjajah dan pemeras bagi bangsanya sendiri.
ketertolakan sosial

Dengan ketertolakan seperti itu sepanjang hidupnya, tidak sulit rasanya kita membayangkan, betapa Zakheus memiliki gambar diri yang sangat buruk.

Tapi ketika Yesus sampai di pohon ara tsb, Yesus memanggil Zakheus dengan nama aslinya, nama yang diberikan oleh ibunya, bukan ejekan atau julukan.

Itu menunjukkan bahwa Yesus menghargai dan tidak membenci Zakheus, berbeda dengan orang-orang sekotanya.


Ketika Zakheus mengalami bahwa ada seseorang yang mengasihi dan menerima dia apa adanya, dan juga mau bersahabat dan bahkan mau menumpang di rumahnya, semua perasaan ketertolakan dia hilang setika dan dipulihkan.

Kalau Tuhan menerima dan mengasihi dia, mengapa dia harus menolak dan membenci dirinya sendiri?

Gambar dirinya diperharui, dan ia berdamai dengan dirinya sendiri.

Pelajaran #1 - Perjumpaan Yesus membuat Zakheus memiliki gambar diri yang baru, dan ini menunjukkan telah terjadinya Pemulihan Relasi antara Zakheus  dgn Dirinya Sendiri.


2. Perubahan FOKUS (ay.6,8)

Zakheus meresponi insiatif Yesus untuk menumpang, dengan segera menerima Yesus.

“Menerima” Yesus di sini bukan saja berarti ia bersedia membuka rumahnya utk Yesus menginap, tapi juga menerima kehadiran Yesus sebagai Tuhan atas hidupnya.

Zakheus menyebut Yesus dengan Tuhan, bukan guru. Dengan pengakuan itu, Zakheus  menunjukkan bahwa Yesuslah sekarang yang menjadi Tuhan atas hidup saya, bukan diri saya lagi.

Perubahan fokus ini, menyebabkan Zakheus tidak lagi menjadi orang yang ego-sentris, yang hanya berpusatkan pada kepentingan dirinya sendiri, tapi mulai melihat orang lain juga.

Dulu merampas, sekarang mengembalikan.

Pelajaran #2 #   Perjumpaan Yesus membuat Zakheus memiliki fokus yang baru.Fokusnya bukan dirinya lagi, sehingga mengakibatkan terjadinya Pemulihan Relasi antara Zakheus dengan Orang Lain.

3. Perubahan Identitas (ay. 6, 9)

Sebelumnya Zakheus diberikan label sebagai “orang berdosa” oleh masyarakat Yahudi.

Dengan status “orang berdosa” seperti itu, orang seperti Zakheus sekalipun secara darah adalah keturunan abraham, ia tidak layak lagi disebut sbg “anak abraham” karena tidak mencerminkan standar moral orang2 Yahudi. 

Tapi Yesus mengoreksi pengertian “anak abraham” yg sering dijadikan kebanggan yang salah oleh orang Parisi.

Bagi Yesus, yang disebut dengan “anak Abraham” yang sejati bukanlah keturunannya secara fisik, tapi “ anak-anak Abraham rohani” yaitu orang yg menerima dan beriman kpd Kristus, seperti yang dilakukan oleh Zakheus!

Pelajaran #3:  Perjumpaan Yesus membuat Zakheus  memiliki identitas yang baru. Ia bukan lagi “orang berdosa”, tapi “anak abraham yang sejati”, ini menunjukkan telah terjadinya Pemulihan Relasi antara Zakheus  dgn Tuhan. 

======

Refleksi:

Di dalam Kristus, sama spt Zakheus, kitapun memiliki (1) Gambar diri yang baru, (2) Fokus yang baru dan (3) Identitas yang baru.

Buanglah gambar diri yang buruk, karena Kristus mengasihi dan menghargai kita bagaimanapun keadaan fisik dan perbuatan buruk di masa lalu kita.

Jadikan Yesus sebagai Tuhan atas seluruh aspek hidup kita, bukan diri kita sendiri.

Bersukacitalah karena kita adalah “anak-anak Abraham rohani”, penerima janji kekal dari Allah. 

- Amin - 

Pesan Penggembalaan - Maret 2024










Comments