Warta Minggu, 19 November 2023

 Warta Minggu, 19 November 2023


Matius 6:24, “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.

Dalam konteks Matius 6:19-24 ini, fokus perkataan Yesus bukanlah pada jumlah/kuantitas harta benda, tetapi pada kualitas & sikap hati terhadap harta benda tersebut. Mengapa ? Pendengar Kotbah Yesus di Bukit kebanyakan orang miskin, orang kampung, para nelayan dengan pendidikan rendah. Hanya sebagian kecil pengikut-Nya yang berada di kelas sosial atas. Perkataan Yesus di ayat sebelumnya adalah tentang kondisi mata dan hati sebagai pelita bagi seluruh tubuh dan pada perikop selanjutnya, Yesus berbicara mengenai hal kekuatiran. Semua memberi penekanan yang sama kepada sikap hati. Maka, Yesus menantang pendengarnya untuk menentukan pilihan: sepenuh hati mengabdi kepada Allah atau Mamon ? Mengabdi kepada dua tuan sekaligus tidak akan memberikan pengabdian seutuhnya. Bicara sikap hati terhadap harta benda tidak ada kaitannya entah seseorang itu kaya atau miskin. Sebab, baik orang kaya atau orang miskin, kalau tidak menjaga hati terhadap harta benda, keduanya dapat jatuh kepada sika-sikap yang tidak benar dan bahkan dapat diperbudak oleh harta bendanya. Orang miskin bergumul agar tetap benar sikap hatinya saat mencari rejeki. Bagaimana ia tetap benar hatinya dan memuliakan Tuhan, saat ia menggunakan harta yang ada padanya. Demikian juga dengan orang kaya, bagaimana agar hatinya tidak dikuasi harta, bagaimana dia harus tetap melihat harta sebagai fasilitas, yang tidak membuatnya menjadi superioritas dengan harta yang dimilikinya. Bagaimana ia tetap melihat harta sebagai sarana dan bukan penguasa atas hidupnya. Semua itu soal sikap hati.

Bagaimana hati kita tetap berkenan dengan semua harta benda yang kita miliki ?

(1): Menyadari bahwa semua harta benda kita berasal dari Allah (Amsal 10:22 ; Mazmur 127:2). Bahwa semua korban / persembahan terbaik dapat kita persembahkan, saat menyadari semua harta kita berasal dari Allah. Kalau kita bisa kerja, itu karena Tuhan yang memberikan kemampuan, kepandaian, hikmat dan kesehatan untuk mencari rejeki. Sebab, sesungguhnya kita hanya pengelola bukan pemilik dari semua yang dipercayakan kepada kita. semua semua pencapaian harus dimaknai karena perkenanan Tuhan. Contoh: Daud. Ia sangat menyadari bahwa semua berkat dan kejayaannya berasal dari Tuhan. Kitab 1 Tawarikh 29:10-18) mengatakan, Sebab kekayaan dan kemuliaan berasal dari pada-Mu dan Engkaulah yang berkuasa atas segala-galanya; dalam tangan-Mulah kekuatan dan kejayaan;.. Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu.” (2): Cintai Tuhan sepenuhnya, maka kita akan jadi tuan atas harta benda kita (Matius 6:19-21; 1 Korintus 6:17). Perintah untuk mengumpulkan harta di Sorga adalah sebuah peringatan bagi kita. kita dapat membandingkan dengan perkataan Yesus dalam Yohanes 6:27, “… bekerja bukan untuk makanan yang fana, untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal.” Jadi, marilah kita menggunakan harta untuk memuliakan Tuhan. Tekankan dalam hati bahwa, harta benda tidak pernah salah, harta benda tidak pernah berdosa dan memang bukan pada harta benda masalahnya – yang sering menjadi masalah adalah saat hati kita mulai mencintai harta benda, melebihi cinta pada Allahnya. JADI, masalahnya itu, bagaimana hati kita terhadap semua harta benda. (3): Kembangkan rasa cukup dan syukur dalam diri (1 Timotius 6:6). Rasa cukup dan syukur dapat terjadi dalam diri kita oleh karena: kekuatan Tuhan (Filipi 4:11-13) dan beralih fokus untuk mengejar yang utama (1 Timotius 6:9-11). Pagi ini, marilah kita meutuskan dalam hidup kita masing-masing, kepada siapa engkau akan menentukan pilihan ? Mamon atau Allah. Pilihlah mengabdikan diri kepada Allah, sebab dari Dialah sumber segala berkat-berkatmu dan Mamon tidak akan pernah bekuasa lagi atasmu. Pertama: Kasihi dan cintailah Allah, melebihi cinta kita kepada segala rupa-rupa harta benda. Sebab harta benda tidak abadi. Kedua: Ikatkan diri kepada Allah yang kekal bukan pada yang fana (bisa rusak dan dimakan ngengat). Jangan mengikatkan diri pada sesuatu yang tidak abadi, ujungnya kebinasaan. Ketiga: Sertai ibadahmu dengan rasa cukup. Maka engkau tidak akan pernah memberikan semua korban dan persembahan terbaikmu dengan perhitungan untung dan rugi, tetapi karena tindakan kasih & penyangkalan diri yang keluar dari sikap hati yang mencintai Allah. Korban terbaik dapat kita berikan saat hati kita mencintai Allah sepenuhnya, sebab kualitas korban kepada Allah ditentukan oleh sikap hati kita kepada-Nya.

Tuhan Yesus Memberkati.













Comments

Popular posts from this blog

Warta Minggu, 10 Mei 2026

Warta Minggu, 02 November 2025