Warta Minggu, 12 November 2023
Warta Minggu, 12 November 2023
Pengorbanan Yang Lebih Baik ( Better Sacrifice )
Tanggal 10 November kita peringati sebagai hari pahlawan. Kita menghormati dan menghargai pahlawan pahlawan yang telah berjuang bagi bangsa. Karakter yang paling jelas dari seorang pahlawan adalah mereka berjuang, berkorban bahkan rela mati bagi bangsanya. Mereka melepaskan kepentingan dan kenyamanan pribadi hanya untuk kepentingan bangsanya yaitu kepentingan orang banyak. Yesuspun telah memberikan teladan tersebut kepada kita. Dia telah mengorbankan diriNya sendiri supaya kita diselamatkan. Sebagai murid-muridNya yang sedang meneladani kehidupan Yesus, kitapun harus belajar untuk terus berkorban. Di dalam Ibrani 9:25 dikatakan, “Dan Ia bukan masuk untuk berulang-ulang mempersembahkan diri-Nya sendiri, sebagaimana Imam Besar setiap tahun masuk ke dalam tempat kudus dengan darah yang bukan darahnya sendiri.” Yesus mempersembahkan seluruh yang ada pada-Nya, yaitu dirinya sendiri. Dari kehidupan Yesus kita bisa belajar 3 hal tentang pengorbanan:
1. Pengorbanan harus didasari dengan kasih
Yohanes 3: 16 Karena begitu besar kasih Allah
akan dunia ini , sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang
tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya
tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Pengorbanan yang
dilakukan Yesus semata mata di dasari oleh kasihNya kepada manusia. Karena
cintaNya pada manusia, Allah sejak manusia jatuh di dalam dosa telah
merancangkan cara untuk menyelamatkan manusia, dan membawanya kembali pada
tempatnya yang semula. Allah mengasihi kita seperti seorang Bapak yang sayang
kepada anaknya. Berapapun harga yang harus dibayarnya untuk membawa anaknya
kembali dibayarnya, bahkan bila harus mengorbankan dirinya sendiri.
2. Pengorbanan harus di dasari pengabdian
2 Timotius 2: 4 Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak
memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia
berkenan kepada komandannya. Seorang abdi dalem
keraton Yogyakarta mengabdi kepada raja seumur hidupnya, meskipun tanpa gaji
atau dengan imbalan yang sangat kecil. Oleh sebab itu, yang menjadi dasar
pemikiran mereka bukanlah untuk mencari uang melainkan mengabdi. Yesus pun telah
memberikan contoh kepada kita bagaimana Ia memberikan diri-Nya sepenuhnya.
KetaatanNya kepada Bapa sampai mati di atas kayu salib
membuktikan pengabdian yang tulus tanpa pamrih. Allah pasti memberkati
kehidupan kita, dan apa yang kita tabur pasti kita tuai. Tetapi mari kita
melayani Dia bukan karena berkat yang kita inginkan, melainkan sebuah
pengabdian hidup kepada Tuhan.
3. Pengorbanan harus di dasari dengan semangat melayani
Matius 26 : 7-10 datanglah seorang perempuan kepada-Nya membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi yang mahal. Minyak itu dicurahkannya ke atas kepala Yesus, yang sedang duduk makan. Melihat itu murid-murid gusar dan berkata: "Untuk apa pemborosan ini? Sebab minyak itu dapat dijual dengan mahal dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin." Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: "Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku. Minyak wangi yang mengurapi kaki Yesus bukanlah harga yang murah. Ia harus mengorbankan uang makannya, biaya hidupnya, kenyamanannya untuk hal tersebut. Namun kerinduan memberikan pelayanan kepada Yesus jauh lebih besar dari hal hal tersebut,sehingga ia rela melakukannya. Fokus pengorbanan kita haruslah didasari oleh kerinduan memberikan pelayanan kepada Yesus yang terbaik.
Bila kita simpulkan ketiga hal di atas yang mendasari pengorbanan kita
adalah mempersembahkan hidup kepada Tuhan. Sama seperti Yesus telah
mempersembahkan hidupNya bagi kita, demikianlah kita juga harus belajar
mempersembahkan hidup kita bagi Tuhan dengan pengorbanan.
%20(29).jpg)
%20(10).jpg)






.jpg)
.jpg)
Comments
Post a Comment