Warta Minggu, 24 September 2023

 Warta Minggu, 24 September 2023

Kitab Ayub yang berisi 42 pasal biasanya kita pahami hanya dari 3 pasal bagian narasinya saja, yaitu pasal 1-2 tentang bagaimana Ayub sang konglomerat yang saleh ini tiba-tiba kehilangan segala-galanya, lalu lompat ke pasal 42 tentang bagaimana kondisi Ayub dipulihkan.

Padahal “daging” dari Kitab Ayub ada pada bagian tengahnya. Di sinilah terjadi apa yang kita sebut sebagai “Pergumulan Teologis” yang dialami oleh Ayub.

Yaitu bahwa Ayub mengalami kebingungan, frustrasi, karena apa yang dia yakini menurut teologinya, ternyata tidak sesuai dengan realitanya.  → “Saya kan orang benar, Mengapa saya mengalami penderitaan?”

Terjadinya kebingungan Ayub, dan juga ketiga sahabatnya itu (Elifas, Bildad dan Zofar), disebabkan karena mereka menganut suatu paham yang mereka yakini, yang berlaku pada saat itu, yang disebut dengan “Teologi Retribusi”.

Apa itu “Teologi Retribusi”? 

Kata “Retribusi” itu artinya adalah “Ganjaran”. Jadi Teologi Retribusi (TR) adalah paham bahwa anda akan diganjar sepadan dengan perbuatan anda.

Orang benar akan diganjar dengan hal-hal baik dalam hidup ini (kebahagiaan, kemakmuran, kesehatan), dan orang jahat diganjar dengan hal-hal buruk (kesusahan, kemiskinan, sakit-penyakit).

Nah logika dari TR ini juga berlaku dalam arah sebaliknya:

Kalau kita mengalami kebahagiaan, kelancaran, itu pasti tandanya kita telah melakukan kehidupan yang benar dan berkenan bagi Tuhan.

Sebaliknya kalau kita mengalami penderitaan atau kesusahan itu pasti tandanya kita sedang dihukum karena perbuatan dosa yang sudah kita lakukan.

Dengan dasar pemahaman akan TR seperti itu, maka ketika Ayub dihantam dengan Tsunami penderitaan yang luar biasa itu, logika sahabat-sahabatnya sederhana, yaitu: Karena Ayub mengalami penderitaan yang luar biasa besar, maka itu pasti karena Ayub telah melakukan perbuatan dosa yang sangat jahat.   Padahal kita tahu tuduhan itu tidaklah benar.

Kita akan  menarik 3 pelajaran penting dari sini.

1.  Seseorang yang hidupnya benar, tidak menjamin pasti tidak ada penderitaan.

Kita bisa meyakini bahwa salah satu tujuan mengapa Allah memberikan kitab Ayub kepada kita adalah untuk menunjukkan kelemahan dari TR, yang menyatakan bahwa apabila seseorang menderita, pastilah disebabkan karena dosa.

Pergumulan Teologis Ayub juga menjadi contoh bagi kita. Bagaimana kitapun akan mengalami kebingungan dan kekecewaan pada saat mengalami penderitaan apabila kita memegang TR, seperti Ayub.

Sikap Kita: Ketika penderitaan menghampiri, janganlah terkejut, jangan tertuduh, jangan menuduh (seperti yang dilakukan sahabat-sahabat Ayub).

2. Teologi Retribusi hanya benar apabila dipandang dalam perspektif kekekalan

Alkitab juga mengajarkan TR, tapi berbeda dalam perspektifnya.
Kalau TR yang dipegang oleh masyarakat Yahudi saat itu berfokus pada kehidupan di bumi ini saja, maka “TR yang Alkitabiah” (atau saya sebut TRA) memiliki perspektif sampai di kekekalan.

Jadi bisa saja di bumi ini, ganjarannya – baik yg positif maupun yang negatif – tertunda, tapi pasti akan dilakukan pada saat pengadilan terakhir.  Di situlah keadilan Allah yang sempurna akan dinyatakan sekali utk selamanya, di mana orang-orang benar akan diberi pahala, dan orang-orang yang jahat akan dihukum (Wahyu 20: 11-15).

Dengan cara pandang seperti ini, maka kita tidak lagi terkejut, kecewa, atau mempertanyakan keadilan Allah, apabila kita melihat orang yang jahat hidupnya seolah berhasil dan bahagia, sedangkan kita yang hidup benar mengalami penderitaan.  Karena semua retribusi yang terjadi di bumi ini belumlah final.

Sikap Kita: Fokuslah pada kekekalan di mana Retribusi Ilahi akan berakhir di sana,

3. Setiap penderitaan pasti memiliki tujuan. Hanya tidak semuanya kita ketahui

Ya benar.. Setiap peristiwa, termasuk penderitaan, ada di dalam kendali Allah, dan pasti memiliki tujuan.

Kalau kita pelajari sepanjang Alkitab, paling tidak kita bisa menemukan 6 tujuan penderitaan.


Penderitaan memang bisa dipakai oleh Tuhan sebagai alat untuk menghukum perbuatan dosa kita, tujuannya tentu saja supaya kita bertobat. Tapi itu hanyalah salah 1 saja.

Meyakini bahwa semua penderitaan adalah karena dosa seperti yg dipercaya oleh Ayub dan sahabat-sahabatnya adalah hal yang merugikan diri sendiri.

Namun sekalipun kita mengetahui ada 6 tujuan penderitaan, mungkin saja kita tidak tahu secara persisnya alasan dari penderitaan yang kita sedang alami, dan memang kita tidak perlu harus mengetahuinya.  

Sikap Kita: Ketika kita tidak mengetahui alasan dari sebuah penderitaan, tetaplah setia dan berserah, seperti Ayub.  Itu yang namanya iman. 









Comments

Popular posts from this blog

Warta Minggu, 10 Mei 2026

Warta Minggu, 02 November 2025