Warta Minggu, 23 Juli 2023

 Warta Minggu,  23 Juli 2023

Komeng, seorang komedian, pernah berkata kalau manusia jangan menjalani hidup seperti air  mengalir. Kalau airnya masuk jurang, atau seperti kata dia,menyenggol (maaf) kotoran, masa kita ikut saja? Itulah sebabnya, kita  memerlukan hikmat dalam hidup ini. Orang yang berhikmat akan mampu menjalani hidup dengan baik. Bukan saja dia akan menghindari hal-hal yang bisa mencelakakan hidupnya (misalnya, tergiur keuntungan instan seperti tadi). Tetapi, saat berada di tengah situasi sulit pun (karena tidak selalu bisa dihindari), dia tetap mampu menanganinya.Di dalam Alkitab, kita mengenal sosok Salomo, seorang raja Israel yang sangat berhikmat. Hikmat yang dimilikinya tidak tertandingi oleh orang-orang pada zamannya. Bahkan, oleh para ahli pikir  Mesir sekalipun, yang dikenal sangat bijaksana. Tidak heran, orang-orang dari segala bangsa datang meminta petunjuk  hikmatnya.

Salah satu kisah tentang kebijaksanaannya tertulis di 1Raja-Raja. 3:16-28. Ketika itu, ada dua perempuan sundal yang bertengkar.Mereka saling menuduh bahwa temannya menindih bayinya sendiri hingga mati dan kemudian menukarnya dengan bayinya yang masih hidup.Apa yang  dilakukan Salomo? Dia mengancam untuk membelah bayi yang masih hidup itu sehingga masing-masing mendapat bagian. Tentu saja, ibu bayi yang asli tidak akan tega membiarkan anaknya mati. Akhirnya, salah satu perempuan itu mengalah dan memberikan bayinya untuk diambil temannya.Tetapi justru di sinilah letak kecerdikan Salomo. Tindakan yang berisiko itu menguak siapa sebenarnya ibu dari bayi yang masih hidup  itu.

Benarlah pernyataan bahwa hikmat adalah mengambil tindakan yang tepat pada orang yang tepat dan dilakukan dengan cara yang tepat pula. Dengan hikmat, kita akan mampu menangani berbagai kerumitan hidup: pandemi berkepanjangan, atasan/rekan kerja yang bermasalah, PHK, anak-anak yang  mulai susah diatur, hubungan dengan mertua, dan sebagainya.Namun demikian, masih banyak orang Kristen yang keliru  memahami tentang hikmat. Akibatnya, mereka pun menjalani hidupnya dengan fokus dan cara yang tidak terlalu berbeda dengan orang kebanyakan. Sampai pada suatu saat, mereka baru menyadarinya ketika semuanya sudah terlambat. Mari kita belajar tiga hal tentang hikmat.

               Pertama, hikmat berasal dari Tuhan (1Raj. 4:29). Di dalam Amsal 2:6 tertulis, “Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian.” Hikmat yang diajarkan dalam Perjanjian Lama memiliki perbedaan mendasar dengan hikmat dari     bangsa-bangsa lain pada masa itu. Para penulis kitab hikmat, termasuk Salomo, menekankan bahwa hikmat tidak bisa dilepaskan dari Allah. Hidup menurut hikmat Tuhan tidak selalu memberikan keuntungan duniawi. Tetapi yakinlah, itulah satu-satunya jalan hidup yang menguntungkan kita. Maka, jika kita bersandar pada hikmat Tuhan, pertanyaan yang kita ajukan bukan “bagaimana saya bisa lepas/mengambil keuntungan dari situasi ini?” Tetapi, “bagaimana saya bisa lebih memuliakan Allah di tengah situasi ini?”

               Kedua, hikmat Tuhan hanya bisa didapat melalui relasi dengan Kristus. Rasul Paulus menjelaskan, “sebab di dalam Dialah (Kristus) tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan” (Kol. 2:3). Seperti apa Allah itu, bagaimana pola pikir-Nya, apa kehendak-Nya di dalam setiap kehidupan manusia, Sayang sekali, tidak sedikit orang Kristen yang lebih terpesona dengan manusia fana karena gaya hidup Kristus dianggap tidak cocok untuk manusia di zaman modern ini.  Padahal, siapa yang lebih “sukses” dibanding Kristus? Waktu hidup-Nya tidak ada yang terbuang sia-sia. Dia mampu lolos dari setiap jebakan, mulai dari ahli Taurat hingga Iblis. Berhadapan dengan pembesar seperti Pilatus pun, Dia tidak menurunkan standar kebenaran-Nya. Bahkan, kematian-Nya memuliakan Allah dan menjadi berkat.

               Ketiga, hikmat hanya akan berhasil ketika diterapkan. Di dalam Ulangan 17:16-17, tertulis rambu-rambu bagi raja Israel: dilarang memelihara banyak kuda, jangan berbalik ke Mesir, jangan memiliki banyak istri, serta tidak mengumpulkan terlalu banyak emas dan perak. Allah memerintahkannya   supaya hati raja tetap fokus pada-nya. Tetapi, Salomo          melanggarnya. Dia menjadi menantu Firaun (1Raj. 3:1),   memiliki 700 istri dan 300 gundik (1Raj. 11:3), serta banyak sekali hartanya. Salomo memang memiliki hikmat. Tetapi, dia tidak sepenuhnya hidup berdasar hikmat tersebut. Hatinya kemudian menjauh dari Allah (1Raj. 11:4). Apa yang terjadi kemudian? Justru pada masa kepemimpinan Salomolah, raja yang paling berhikmat, kerajaan Israel terpecah menjadi dua (Israel di utara dan Yehuda di selatan). Sungguh ironis bukan?

Maka sadarilah ada konsekuensi dari pilihan kita. Kita bisa hidup di dalam hikmat Tuhan sehingga kita menjadi serupa dengan Kristus yang di tengah segala kondisi tetap memuliakan Allah dan menjadi berkat bagi banyak orang. Atau, hidup di luar hikmat Tuhan, seperti Salomo yang kemudian menyeret banyak orang ke dalam perpecahan dan penyembahan berhala. 








Comments

Popular posts from this blog

Warta Minggu, 10 Mei 2026

Warta Minggu, 02 November 2025