Warta Minggu, 16 April 2023

  Warta Minggu,  16 April 2023

Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati. Filipi 3:10-11

Di paskah tahun ini, Tuhan mengingatkan apa yang Ia sediakan yaitu KEMERDEKAAN SEJATI, yang kita pribadi tidak mampu sediakan padahal kita sangat membutuhkan. Di peringatan Jumat Agung kita diingatkan bahwa satu-satunya pembayaran HARGA dari KEMERDEKAAN SEJATI adalah PENYALIBAN YESUS. Di peringatan kebangkitanNya pada hari minggu Tuhan mau ingatkan TUJUAN KEMERDEKAAN SEJATI.

Tanpa mengerti tujuan, kita bisa menyia-nyiakan harga yang Yesus bayar buat kemerdekaan sejati. Apakah tujuan kemerdekaan sejati? Kita MENGALAMI KEUTUHAN HIDUP BARU. Di dalam kemerdekaan sejati ada 3 hal yang Tuhan berikan. Dua hal pertama,  Pengampunan dan Hidup kekal semata-mata hanya Tuhan yang bisa buat. Namun, yang ketiga, keutuhan hidup baru ada bagian tindakan kita yang meresponi hidup baru yang Tuhan berikan. Apakah tindakan untuk mengalami keutuhan hidup baru?

Kita menghayati yang Jesus kerjakan di paskah yaitu menghayati penderitaanNya di atas kayu salib. Dengan menghayati ini, kita menjadi ‘serupa dengan kematianNya’- yaitu mati buat hidup lama dan mengalami kuasa kebangkitanNya yaitu menerima seutuhnya hidup baru. Di ayat emas firman, ada kata “dan” antara ‘kuasa kebangkitanNya dengan persekutuan dengan penderitaan-Nya’.

Kata Persekutuan mempunyai pengertian- mengambil tanggung jawab; ikut merasakan. Orang yang salah mengerti akan mengatakan,” kok ikut merasakan penderitaan, nanti dulu…“. Kata “dan” ini menunjukkan bahwa ketika kita mengambil tanggung jawab ‘menghayati nilai salib’ maka kuasa kebangkitanNya yang memberikan kemenangan atas segala hal akan nyata. Jadi, tepatnya bukan kita amenderita disalibkan seperti Yesus, tetapi melalui menghayati nilai penderitaan salib, kita akan mengalami kuasa kebangkitanNya nyata. apakah nilai salib itu?  

Yang pertama dari nilai salib adalah  BERTUMBUH DALAM KETAATAN . Yesus disalibkan karena  ”dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan TAAT sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Filipi2:8) Salib terjadi karena ketaatan Dia kepada rancangan bapakNya. Taat adalah sebuah keputusan melalui proses bertumbuh. Apapun yang namanya pertumbuhan, pasti ada bagian yang tidak menyenangkan. Tetapi taat itu pasti membuat hidup barumu semakin utuh. Bahkan, akan mengalami kebahagiaan edisi khusus Tuhan (Matius 25:23) . Taat akan membuat kita bukan hanya tau kebenaran firman, tetapi menjadi pelakunya.

Yang kedua dari nilai salib adalah BERFOKUS PADA KEKEKALANSalib melepaskan kita dari kebinasaan (hukuman kekal di neraka) dan memperoleh kehidupan kekal dalam kerajaanNya ( Yohanes 3:16 dan Kolose 1:13). Itulah sebabnya, kita harus memastikan bahwa hidup yang sudah dibangkitkan bersama dengan Kristus, akan mencarilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. (Kolose 3:1-2)

Disini bukan cuma ke rumah Bapa Surgawi waktu kita meninggal dunia, tetapi menjalani hidup yang tujuan kekekalan. Kita mau mengerti apa passion/ Hasrat, bakat, potensi dan kesempatan yang Tuhan berikan untuk hidup kita berdampak/ menjadi berkat seperti yang Tuhan mau/ menjadi kesaksian. Dalam bekerja, berusaha, bersekolah, dan kuliah, tujuan kita bukan untuk mendapatkan uang dan menjadi kaya, tetapi bisa memiliki kecukupan untuk menggenapi tujuan Tuhan dan mengumpulkan harta dan upah yang kita akan nikmati selamanya di kekekalan hidup kita.

Yang ketiga dari nilai salib adalah KELIMPAHAN SEGALA HAL. Tuhan Yesus mengatakan bahwa Ia datang, menggenapi misinya menebus kita dengan mati diatas kayu salib dan bangkit) adalah supaya kita “mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan“ (Yohanes 10:10). Tuhan mau kita jangan cuma kelimpahan dalam uang, pengetahuan dan segala hal yang baik, tetapi tidak berkelimpahan dalam kebenaran firman dan karakter Kristus. kalau kita tidak limpah dalam segala hal, kita akan menjadi orang yang “ harusnya terdahulu tetapi terkemudian,dan masih diajar dasar2 kebenaran padahal seharusnya menjadi pengajar” ( matius 19:30 dan ibrani 5:12)

 









Comments