WARTA MINGGU, 27 NOVEMBER 2022
Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh. Efesus 2: 19-22
Dalam Kristus kita adalah kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota keluarga Allah. Tahukah Saudara bahwa kita adalah bersaudara, kita adalah keluarga. Itu sebabnya kita harus belajar untuk saling mengasihi. Tidak mungkin kita dapat mengasihi dunia yang terhilang jika kita tidak mampu mengasihi saudara seiman kita sendiri. Hubungan saudara berbeda dengan hubungan keanggotaan. Saudara bisa keluar atau masuk menjadi anggota sebuah klub, yayasan, ormas atau partai tertentu. Tapi dalam Tuhan kita adalah keluarga, keluarga itu terikat selamanya. Kita menjadi saudara bukan hanya di dunia ini saja tetapi juga di kekekalan. Tentunya di antara kita memiliki tingkat kedekatan atau keakraban yang berbeda-beda, namun tetap kita adalah saudara. Jika kita mau belajar mengasih saudara seiman kita sebagai saudara, sikap sikap ini harus kita kembangkan :
1. Belajar menerima tanpa syarat
Apakah ini hal yang mudah? Tentu saja tidak! Dibutuhkan kerelaan hati untuk menerima saudara kita apa adanya. Menerima tanpa syarat hanya bisa terjadi bila kita memiliki kasih yang tanpa syarat. Hal yang mudah adalah menerima orang yang mengerti kita. Berhubungan dengan orang yang 'sepadan' dengan kita memang lebih menyenangkan. Kecenderungan daging kita adalah menghindari orang orang yang bermasalah, dan hanya bergaul atau membangun komunitas dengan yang kita mau. Tetapi Allah ingin kita belajar menerima orang yang berbeda, bahkan menjadikan itu sebagai kesempatan untuk membantu yang lemah. Kita harus belajar mengesampingkan perbedaan dan menjadi bagian dari keluarga.
2. Mengembangkan nilai-nilai bersama
Seperti : Nilai Tanggung jawab. Setiap kita harus memiliki rasa tanggung jawab sebagai penjaga saudara kita. ( Ingat ! dosa Kain dalam kejadian 3 adalah tidak bertanggung jawab, begitu juga Yesus menyuruh murid-muridNya mencari makanan bagi banyak orang karena prinsip tanggung jawab). Maka penting sekali untuk kita belajar menegur dalam kasih Kristus. Kehidupan berbagi tanpa harus diminta menjadi bukti bahwa kita memperhatikan dan siap menolong mereka yang membutuhkan. Nilai berikutnya adalah membangun suasana yang harmonis. Setiap orang bisa saling menyapa tanpa rasa takut, apalagi dihakimi.
Firman Tuhan mengingatkan kita untuk terus mengusahakan hidup berdamai denga semua orang. Dan ini bisa terjadi bila ada keterbukaan yang positif ( bukan sebagai kesempatan membicarakan kekurangan orang lain).
Dan yang terakhir adalah nilai kebersamaan. Kebersamaan bukan keseragaman, melainkan berjalan bersama dalam satu visi yang sama, melalui kehidupan saling membantu, melengkapi, menopang sehingga semua bertumbuh menjadi dewasa. Kita yang kuat harus menolong yang lemah. Kita yang lebih rohani harus menolong mereka yang lemah imannya.
Kita berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, memiliki kehidupan yang berbeda-beda. Jadi tentunya bukan hal yang mudah untuk hidup sebagai sebuah keluarga. Namun Lenin sebagai tokoh pendiri komunis saja bisa menerapkan ini dalam sebuah negara, apalagi kita yang memiliki janji Firman Allah. Allah telah berjanji akan mencurahkan berkatnya kepada orang-orang yang hidup rukun sebagai saudara ( Mazmur 133: 1-3). Mari bersama menghidupi makna kebersamaan lebih dari sekedar slogan yang sering kita katakan. Selamat menerima berkat kerukunan!
%20(11).jpg)
.png)








.jpg)
Comments
Post a Comment