WARTA MINGGU, 25 SEPTEMBER 2022

Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. 

Pengkotbah 3: 1

Apa itu waktu?

  Waktu adalah milik berharga yang kita miliki dari Tuhan. Waktu adalah bagian hidup manusia sehari-hari. Tetapi waktu seringkali berlalu begitu saja tanpa sungguh-sungguh mendapat perhatian. Padahal waktu kita tidak dapat digantikan, sekali ia berlalu selamanya berlalu. Waktu adalah bahan mentah kehidupan. Berlalunya waktu setiap hari memberi kepada kita kesempatan untuk berkembang menjadi lebih baik dibandingkan hari-hari sebelumnya. Rasul Petrus mendorong kita untuk “bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus” (II Petrus 3:18). Hal ini terjadi dalam suatu kurun waktu. Keberhasilan atau ketidakberhasilan pribadi kita dalam keseluruhan aktifitas tergantung dari efektif tidaknya penggunaan waktu kita.

  Keterlibatan kita dalam pelayanan di tengah kesibukan sehari-hari sebenarnya menunjuk kepada kemampuan kita dalam mengelola waktu yang Tuhan berikan kepada kita. Tidak ada seorang pun yang mempunyai waktu yang lebih banyak atau yang lebih sedikit. Kepada kita masing-masing diberi 24 jam sehari. Kita semua mempunyai waktu yang sama setiap harinya. Yang membedakannya hanyalah kualitas pemanfaatan waktu yang ada. Ada kalimat bijak yang mengatakan, “Bukanlah hari-hari dalam hidup anda yang berarti, melainkan hidup dalam hari-hari anda.”

  Bagaimana mengelola waktu kita sehingga dapat melayani di tengah-tengah kesibukan kita? Peter Drucker menulis, “Manajemen waktu membutuhkan  disiplin diri.”  Dengan kata lain, kita dapat melayani walaupun banyak aktifitas yang dilakukan asalkan kita dapat mendisiplinkan diri di dalam pemanfaatan waktu yang ada.  Kita harus belajar untuk dapat menetapkan prioritas-prioritas kehidupan dan mengatur waktu kehidupan yang kita jalani.

Untuk itu kita perlu belajar mengatur skala prioritas dalam kehidupan kita.

1. Hal yang sangat penting dan sangat mendesak. Kegiatan ini tidak dapat ditunda-tunda. Harus segera dilaksanakan.

2. Hal yang penting tetapi tidak mendesak. Kegiatan ini penting tetapi tidak menjadi prioritas utama untuk didahulukan. Ia dapat dilakukan setelah yang sangat penting dan sangat mendesak itu.

3. Kegiatan yang hanya membuat (sekedar) sibuk. Kegiatan ini tidak terlalu penting dan hanya menambah kesibukan saja. Tidak dilakukan pun tidak akan menimbulkan kerugian bagi kita.

4. Waktu yang terbuang. Inilah waktu yang kita sia-siakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.

  Salah satu penyakit yang membuat kita gagal dalam mempergunakan waktu adalah kebiasaan menunda-nunda untuk melakukan sesuatu/pekerjaan. Mereka yang dapat memanfaatkan waktu sebaik mungkin adalah orang yang berhikmat. Bukankah Kristus Yesus sendiri telah memberikan teladanNya dalam hal penggunan waktu? Usianya sekitar 33 tahun, tetapi Ia mempergunakan tiap kesempatan yang ada. Sehingga ketika disalib dalam usia relatif masih muda, Ia telah menyelesaikan karyaNya dengan tuntas.

  Waktu sekarang ini adalah waktu yang sangat berharga. Penting untuk belajar dari kesalahan dan melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Memanfaatkan hari ini dengan sepenuhnya merupakan persiapan terbaik untuk memasuki hari esok. Kita semua diberi waktu. Berapa lama berlangsungnya waktu (kronos) kita tidak tahu, hanya Tuhan yang tahu. Yang penting ialah bagaimana kita menggunakan waktu (kairos) sebijaksana mungkin. Sehingga hidup dan kehidupan kita bermakna bagi diri sendiri, keluarga, sesama, serta memuliakan Tuhan. Oleh sebab itu, sangat baik apabila kita berkata seperti pemazmur, “ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian rupa sehingga kami mempunyai hati yang bijaksana.” (Mazmur 90: 12). Bijaksana berarti mau belajar dari masa lalu. Bijaksana juga berarti tidak ingin melewatkan waktu sedetik pun dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Setiap detik adalah moment penting bagi kita untuk berakar, bertumbuh dan berbuah (Kolose 2: 7). Mazmur 90: 12 merupakan doa yang penuh kerendahan hati. Doa yang mau mengoreksi diri dan memperbaruinya. Mari kita jadikan doa pemazmur ini menjadi doa kita juga. Selamat menikmati hidup yang bermakna!



















Comments

Popular posts from this blog

Warta Minggu, 10 Mei 2026

Warta Minggu, 02 November 2025