WARTA MINGGU, 28 AGUSTUS 2022
Amsal 29:18a
Visi Pribadi dan Visi Bersama
Visi pribadi adalah visi rohani yang Tuhan berikan secara pribadi kepada seseorang. Visi pribadi merupakan pekerjaan Roh Kudus dalam kehidupan seseorang yang dialaminya pada saat perjumpaan dengan Tuhan, misalnya pada saat pertobatan atau saat dipanggil dalam suatu pelayanan khusus. Sebagai contoh Rasul Paulus mendapatkan visi pribadi pada peristiwa perjumpaannya dengan Tuhan (Kisah Para Rasul 9:3-30; 26:1-24).
Visi bersama adalah visi rohani yang diberikan kepada satu orang tetapi berpengaruh pada orang-orang lainnya, tidak hanya pada satu orang itu saja. Biasanya, untuk sebuah visi bersama Allah akan mengirim orang-orang untuk menjadi sebuah tim dalam proses pelaksanaan visi tersebut. Sebagai contoh Musa mendapat visi dari Tuhan untuk membebaskan orang Israel dari perbudakan di Mesir, serta menutun bangsa itu keluar dari sana menuju Tanah Perjanjian. Visi ini melibatkan orang banyak, baik para pemimpin yang diangkat oleh Musa sebagai tim maupun umat Israel secara keseluruhan (Keluaran 3:1-12; 18:13-26).
Mengapa Kita Memerlukan Visi
Ada banyak alasan mengapa kita membutuhkan visi bagi hidup kita, antara lain: membuat kita memiliki prioritas dan lebih fokus, meningkatkan efisiensi dan mendorong efektifitas, membantu dalam menyusun rencana dan strategi yang tepat, memberikan motivasi dan semangat, menarik orang untuk bersatu dan berpartisipasi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa visi dari Tuhan akan menentukan arah kehidupan seseorang.
Rasul Paulus Adalah Contoh Dari Kegairahan Hidup Dalam Visi Allah
Dalam dua dekade Pelayanannya, Paulus meraih banyak keberhasilan yang menakjubkan. Apa yang menggerakan semangatnya? Apa yang membuatnya dapat melakukan pekerjaan seperti itu? Dalam Filipi 3:7-9 ia mengatakan, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan”.
Paulus telah menemukan visi Tuhan bagi hidupnya, dan itulah tujuan hidupnya. Ia mengejarnya dengan penuh gairah! Paulus adalah seorang yang kecanduan Allah. Allah berada di jantung pengajarannya. Kata ‘Theos (Allah)’ muncul dalam tiga belas surat kirimannya tidak kurang dari 548 kali. Bagi Paulus, Allah berdaulat penuh dalam segala hal: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Roma 11:36)”. Sebelum pertobatannya yang dramatis (Kisah Para Rasul 9), Paulus mempunyai tujuan lain dalam hidupnya. Sebagai anggota kaum Farisi dan yang lulus dengan predikat terbaik dari akademi saat itu, Paulus telah mencapai kedudukan tertinggi. Sebenarnya, ia dapat menyombongkan pendidikannya, asal-usul keturunannya, dan praktik-praktik keagamaannya, intelektualitas dan kesalehannya yang mengagumkan. Namun Paulus menganggap semua yang diperolehnya melalui usaha-usahanya sebagai sampah bila dibandingan dengan nilai yang diperolehnya ketika mengenal Kristus. Paulus lebih suka membuang semua yang diperolehnya supaya mengenal Kristus. Karena mengenal Kristus tidak ternilai harganya, Paulus mengabdikan hidupnya untuk mengenal Juruselamat. Itulah tujuan dan gairah hidupnya.
Tujuan kekal Allah mencerminkan kebijaksanaanNya yang sempurna dan kekal, dan Ia merancang dunia ini sedemikian rupa sehingga kita merasakan kebahagiaan yang paling besar apabila Allah dimuliakan dalam hidup kita. Dengan alasan yang tak terselami oleh kita, Allah memiliki kegairahan agar kita berada dalam rancangan dan kehendakNya. Dia inginkan hubungan yang dekat dengan kita dan kita berpartisipasi dalam tujuan dan maksudNya yang kekal apabila kita mencari Dia dengan sepenuh hati. Akhirnya, meskipun akan ada banyak tantangan dan pergumulan yang harus dihadapi, Tuhan sudah menyediakan berkat yang melimpah melalui janji-janjiNya. Rasul Paulus mengatakan “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita” (Roma 8:37).
.png)
.png)
.jpg)

.png)
.png)
.png)
.png)
Comments
Post a Comment