WARTA MINGGU, 24 JULI 2022
Yesus Kristus adalah satu-satunya teladan yang menjadi model kriteria hamba TUHAN. Kriteria hamba Tuhan melekat dalam diri Yesus, kehidupan dan pelayanan Yesus. Kriteria seorang hamba Tuhan dimulai dari inisiatif Allah dan Allah menjadi fokus dalam kehidupan seorang hamba Tuhan. Allah tidak pernah memilih hamba-hamba-Nya tanpa tujuan. Allah mempersiapkan ratusan bahkan ribuan tahun untuk pelayanan hamba-hamba-Nya seperti Yesus. Alkitab telah menubuatkan tentang kehambaan Yesus jauh sebelum kelahiran Yesus. Menjadi murid Kristus adalah menjadi hambaNya. Itu sebabnya bukan kehebatan, kecakapan seseorang dipanggil menjadi muridNya tapi karena kasih karunia Allah. Allahlah yang berinisiatif menentukan tujuan dari pemanggilan seseorang menjadi muridNya.
Ketika Yesus datang kedunia Ia mengambil rupa sebagai hamba, Ia mengosongkan diri-Nya. Yesus meninggalkan kekayaan, kemuliaan dan kehormatan untuk tunduk kepada kehendak Bapa. Ia rela mengalami kemiskinan, penghinaan dan penderitaan dalam kehidupanNya, supaya murid-murid mengikuti teladan-Nya.
Ada 2 hal yang dapat kita pelajari dari makna mengosongkan diri sebagai hamba :
Kerendahan hati
Pengosongan
Kristus bukan menghilangkan keilahian-Nya, tetapi merendahkan diri dengan
mengambil rupa manusia untuk
menyelesaikan pekerjaan Allah. Paulus kepada jemaat Filipi, ”Hendaklah
kamu dalam hidup bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam
Kristus Yesus”.
Yesus mengajarkan jika kamu mau menjadi terbesar, haruslah menjadi terkecil. Yesus mengajarkan untuk memiliki kesadaran bertindak untuk mengambil posisi sebagai pelayan, hamba, pesuruh atau budak. “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Matius 23:11). Kesadaran kehambaan seorang tercermin dari kata-kata yang keluar dari mulut, terungkap dari sikap kepada orang lain, dan keputusan-keputusannya. Orang yang rendah hati, senang, bangga dan berbahagia jika melihat orang lain berhasil. Ia tidak menjadi iri jika orang lain melebihi dirinya.
Lemah Lembut
Yesus membenci dosa tapi berbelas kasihan terhadap orang berdosa. Kristus sendiri mengadakan Perjamuan Tuhan untuk Yudas, padahal Dia tahu pada waktu yang sama Yudas akan menyerahkan Dia. Meskipun demikian dalam Matius 11:19 dan Lukas 15:1-2 Menunjukkan bahwa karakter Yesus tercermin dalam sikap Yesus yang tidak menolak orang berdosa. Yesus bisa saja tampil sebagai seorang yang keras, tapi sebaliknya Yesus mengatakan bahwa diri-Nya adalah seorang yang lemah lembut. Ia melayani orang-orang berdosa dengan lemah lembut. Yesus mengatakan,”Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat” (Matius 11:28). Untuk itu jika kita memiliki kesempatan untuk melayani, layanilah orang lain dengan lemah lembut dan kesabaran tanpa harus kompromi dengan dosa.
Mari kita
menghargai anugrah Tuhan dengan menjadi hamba yang berkenan. Gunakan setiap
kesempatan melayaniNya dengan semua karunia yang Tuhan berikan dengan hati yang
mengasihi Dia. Sehingga dengan kasih yang sama kita mampu mengasihi orang lain.
Selamat melayani Tuhan dengan sukacita.
.png)
.png)
.png)


.png)
.png)



.png)
Comments
Post a Comment