WARTA MINGGU, 12 DESEMBER 2021
Siklus kehidupan kita kembali lagi pada bulan Desember, banyak hujan dan banyak orang yang mulai berlibur. Suasana Natal sudah terasa dengan kembali hadirnya pohon natal di gereja, bahkan di lobby hotel dan mal. Hati saya ikut terbawa suasana gembira ketika saya duduk santai di sebuah lobby hotel di Ubud.
Natal ada karena kasih Allah yang dinyatakan melalui hadirnya Yesus di dunia. Semua orang percaya bersukacita karena mendapatkan juru selamat dalam hidup kita. Hari ini suasana Natal hadir di hampir seluruh dunia, masyarakat menyambut Natal dengan gembira. Moment Natal menghasilkan banyak kesempatan dapat uang dan kesempatan berlibur bagi masyarakat kita. Dunia menyambut kehadiran Natal , tetapi tidak menyambut kehadiran Tuhan Yesus.
Manusia mudah menyambut sesuatu yang kelihatan , dan sulit menyelami sesuatu yang tidak kelihatan. Kita lebih suka pada Tuhan yang melindungi dan mengasihi , tetapi sulit suka pada Firman yang sangat detail mempengaruhi seluruh kehidupan. Kita membayangkan Tuhan dari sisi yang menguntungkan kita, tetapi Firman menyatakan seluruh kehidupan, sisi berkat juga sisi dosa, sisi disiplin dan sisi-sisi yang tidak mengenakkan bagi banyak orang.
Yoh. 1:1 “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”. Firman menghadirkan Allah yang sesungguhnya dalam hidup kita, bukan Allah yang kita ciptakan dari imaginasi kita. Melalui Firman yang kita baca , kita benar-benar mengenal Allah.
Bali sudah mulai terlihat ramai oleh turis lokal, mulai hidup karena moment Natal yang digunakan untuk berlibur. Masyarakat di sana mulai melihat sedikit terang dalam pemulihan ekonomi mereka. Pemulihan itu terjadi karena mulai turunnya angka covid, adanya momentum liburan, dan hotel-hotel yang memberi diskon harga murah. Liburan saya di Bali disertai dengan cuaca mendung dan hujan, jalanan di Seminyak dan Canggu tetap kecil dan sempit, pantai yang indah tetap dihiasi oleh sedikit sampah, dan masih juga ada ibu-ibu yang menjual durian tidak layak makan. Sangat disayangkan, pemandangan indah, biaya hotel murah, makanan enak, dan semua hal indah di Bali, harus berkurang nilainya karena infrastuktur yang tidak mengalami perbaikan dari tahun ke tahun.
Yoh. 1:3 “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan”. Pandemi covid membuat banyak orang susah dan berat menjalani hidup. Banyak cara digunakan , namun hasilnya sedikit. Pemulihan ekonomi Bali hanya menggunakan cara praktis dan mudah, tetapi tidak mencari solusi dari akarnya. Kita juga sering terjebak untuk melakukan cara praktis dan tiru keberhasilan orang lain, tanpa mempelajari dasar dari penyelesaiannya. Firman Tuhan mengatakan bahwa tanpa Dia tidak ada sesuatu yang dapat dijadikan. Tidak ada keberhasilan nyata tanpa didasari oleh kebenaran. Melalui Firman yang kita pelajari, kita kembali kepada kebenaran yang memerdekakan.
Senin pagi 6 Desember 2021, hujan rintik di pasar Ubud, seorang ibu jualan durian menghampiri saya, dia bilang “kasihan pak , saya belum jualan, beli yah, ini duriannya enak, jatuh dari pohon, pasti manis.”. Saya pun beli yang paling kecil, langsung suruh buka dan makan di tempat. Ternyata sangat tidak enak, saya tetap bayar tanpa komplain, dan tinggalkan durian yang baru dimakan 1 biji kecil. Yang saya heran adalah sikap ibu ini yang tetap merasa nyaman saat menerima uang dan tidak ada sedikitpun sungkan dalam sikapnya. Harga diri seorang ibu yang turut menopang nilai budaya sebuah objek wisata dunia, hanya seharga empat puluh ribu Rupiah.
Yoh. 1:5 “Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya”. Mari saudara kekasih, kalau hari ini kita alami kesulitan, jangan lakukan hal buruk untuk penyelesaian solusi kita. Biarlah kebenaran yang kita lakukan , boleh menjadi berkat bagi dunia yang telah banyak salahnya. Melalui Firman yang kita lakukan, Terang Kristus kembali bercahaya di tengah dunia yang gelap.
Comments
Post a Comment