WARTA MINGGU, 24 OKTOBER 2021
Jika Tuhan masih mengizinkan kita hidup sampai saat ini, maka itu berarti Tuhan ingin agar kita mempunyai hidup yang berdampak pertama tama bagi keluarga dan komunitas kita, kemudian kota dan bangsa kita, bahkan akhirnya sampai ke bangsa–bangsa.
Tuhan Yesus berkata di Matius 5:14a, "Kamu adalah terang
dunia. ..." Mengapa hidup kita harus memberi dampak? Jawabannya,
karena Tuhan ingin semua orang diselamatkan. Roma 10:13 "Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama
Tuhan, akan diselamatkan." Kita juga harus ingat bahwa sejak
kita menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi, maka
hidup kita 100% adalah milik Dia.
1 Korintus 6:19, "Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait
Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --
dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?"
Yohanes 15:16, "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu."
Bagaimana hidup yang memberi dampak?
1. Pertobatan yang Memberi Dampak
Kita bisa menjadi berkat dan
berdampak, ketika kita mengalami Kristus terlebih dahulu. Kita harus dipulihkan
terlebih dahulu hubungannya dengan Tuhan. Pemulihan hubungan dengan Tuhan hanya
bisa terjadi melalui Pertobatan.
1 Yohanes 1:9, "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia
dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari
segala kejahatan."
Matius 3:8, "Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan
pertobatan." Menghasilkan buah pertobatan adalah sikap yang
membenci dosa dan tidak menunda waktu untuk melakukan kebenaran, contohnya
seperti Zakheus si pemungut cukai.
Lukas 19:8, "Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada
Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin
dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat
kali lipat." Kesaksian pertama Zakeus kepada orang lain
adalah ketika ia mengalami pertobatan.
2. Pelayanan yang memberi dampak
Masih ada pandangan di dalam
kehidupan orang percaya bahwa antara menjadi orang Kristen dan pelayanan itu
hal yang berbeda, sehingga ada yang berkata seperti ini: "Kalau saya sih
cukup berjemaat saja, kalau pelayanan itu bagian orang lain," padahal
kebenarannya adalah, antara Kekristenan dengan pelayanan itu tidak terpisah.
1 Yohanes 2:6, "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia,
ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup."
Markus 10:45, "Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk
dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi
tebusan bagi banyak orang." Jadi orang Kristen yang baik
adalah yang melayani.
·
Pertama adalah melayani
Tuhan secara pribadi
Kita belajar melalui teladan kita Yesus Kristus yang ketika
masih ada di dunia Ia banyak meluangkan waktu bersama dengan Allah Bapa.
Pagi–pagi benar sebelum Ia beraktivitas, Ia bersekutu dengan Allah Bapa (Markus 1:35) demikian juga pada malam hari. Hari–hari ini kita harus banyak
meluangkan waktu untuk melayani Tuhan secara pribadi dengan membangun
persekutuan yang intim dengan Dia, banyak berada di dalam hadirat-Nya dengan berdoa,
memuji dan menyembah Dia serta banyak membaca Firman Tuhan.
·
Kedua adalah melayani
pekerjaan Tuhan
Ada
banyak pelayanan pekerjaan Tuhan yang bisa kita kerjakan, seperti: bersaksi,
mendoakan orang sakit, menolong orang lain, pelayanan di gereja dan lain–lain.
Di dalam keintiman antara Yesus dengan Allah Bapa, maka Yesus dapat mengerti
apa yang Bapa ingin untuk Yesus lakukan. Yohanes 5:19 "Maka
Yesus menjawab mereka, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak
tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat
Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan
Anak."
3. Persembahan yang memberi dampak
Persembahan yang memberi dampak
ditentukan dengan:
·
Kualitas: Persembahan yang lahir dari hati yang mengasihi Tuhan dan
sesama. 2 Korintus 9:7, "Hendaklah masing-masing memberikan menurut
kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah
mengasihi orang yang memberi dengan sukacita."
·
Kuantitas: "Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit,
akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak
juga." 2 Korintus 9:6. Ini bukan soal jumlah, tetapi seberapa besar pengorbanan yang
kita berikan dalam persembahan. Ingat persembahan seorang janda yang memberi
dari kekurangannya. Yesus menyatakan bahwa persembahan janda itulah yang
terbesar dibanding dengan lainnya.
Seseorang
yang dipenuhi kasih Tuhan pasti murah hati dan tidak hitung–hitungan dengan
Tuhan, oleh karenanya bisa dikatakan bahwa Kasih dengan Kemurahan Hati selalu
berjalan bergandengan. Sebagai contoh, Maria yang mengurapi Yesus dengan minyak
narwastu seharga 300 Dinar yang pada waktu itu merupakan upah setahun kerja (Yohanes 12:1–8). Ia tidak perhitungan dengan Tuhan
karena ia dipenuhi kasih-Nya dan ia sudah mengalami kebaikan Tuhan. Bagaimana
dengan kita; apakah kita murah hati? Apakah kita hitung–hitungan dengan Tuhan?
Comments
Post a Comment