WARTA MINGGU, 10 OKTOBER 2021
Keadilan selalu menjadi topik dalam dunia sosial yang kita hadapi. Hal itu sebagian memang terjadi karena faktor penindasan , sehingga terjadi protes, kerusuhan, pemberontakan, dan peperangan. Respon dari penindasan adalah perlawanan, karena itu pihak yang menindaspun merasakan akibat yang buruk dan merubah perilaku tersebut, entah merubah cara menindas yang lebih halus atau berubah menjadi lebih mengasihi, yang pasti sebab akibat ini pada akhirnya akan mencapai titik keseimbangan untuk mendukung kepentingan bersama.
Perasaan tidak adil tidak hanya terjadi karena adanya penindasan, kita sering lihat karyawan yang merasa tidak adil karena temannya naik gaji lebih besar dari dia. Juga anak yang merasa tidak adil karena orang tuanya lebih sayang kepada adiknya, belum lagi keluarga yang ribut besar karena pembagian harta yang dirasakan tidak adil. Hal ini terjadi karena faktor kejiwaan, jiwa yang tidak dewasa, jiwa yang fokus pada kepentingan pribadi dan selalu membandingkan diri sendiri dengan keadaan orang lain.
Dalam Mat.20:1-6 , kita
melihat ada 2 kelompok orang upahan, yaitu :
- ·
kelompok
yang menerima upah sesuai kesepakatan nilai.
- ·
kelompok
yang menerima upah karena mendapat kemurahan.
Sampai dengan ayat 10, terlihat bahwa tuan ini memberi upah dengan nilai yang sama bagi pekerja yang kerja 1 jam, 6 jam dan 10 jam. Sepertinya dia tidak adil. Hal itulah yang diprotes oleh pekerja yang bekerja 10 jam.
Dari
ayat2 selanjutnya kita dapat menemukan beberapa masalah pada pekerja yang
protes ini :
1. Pekerja ini menekankan masalah “bekerja lebih banyak”. Ayat 12, “katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja 1 jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.”. Tuhan mau kita rajin , tapi hasilnya tidak diukur dari banyak sedikitnya kita sudah bekerja.
2. Pekerja ini juga membandingkan dirinya dengan keadaan orang lain yang tidak perlu berlelah tapi dapat bagian yang sama dengan dia. Pekerja ini sudah melanggar hak tuannya, masalah orang lain dapat berapa, itu bukan lagi hak dia, fokus dia salah. Berfokuslah pada kinerja diri sendiri sehingga dapat bekerja lebih baik dan lebih disukai.
3. Pekerja ini lupa bahwa dia sudah terima haknya, dan dia sedang menuntut sesuatu diluar hak dia. Ayat 13, “Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari ?”. Jangan fokus pada apa yang kita peroleh hari ini , tetapi belajarlah menjadi lebih baik untuk hari esok.
4. Pekerja ini iri hati. Ayat 15, “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku ? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati ?” . Iri hati sangat tidak produktif, merusak karakter kita, dan menghambat kita untuk menjadi lebih baik.
5. Pekerja ini tidak menyadari bahwa berkat tidak tergantung pada siapa yang mulai lebih awal, tetapi pada siapa yang dapat mengakhiri dengan lebih baik. Ayat 16, “Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.”
Mari
saudara kekasih, Tuhan ingin kita finishing well , hidup tidak hanya untuk hari
ini saja, lakukan dan terimalah dengan baik apapun yang terjadi hari ini, sebab
ada besok yang lebih baik sedang menunggu kita.
Comments
Post a Comment