WARTA MINGGU, 14 MARET 2021
Pada kesempatan kali ini,
saya ingin mengajak saudara-saudara untuk melihat Mazmur 49 yang isinya sarat dengan perenungan mengenai kekayaan dan kematian, dan bagaimana kita perlu menyikapinya dengan benar.
(1) Kekayaan anda
tidak dapat menghindari kematian anda
Tidak seorangpun dapat membebaskan dirinya,
atau memberikan tebusan kepada Allah
ganti nyawanya —supaya ia tetap
hidup untuk seterusnya, dan tidak melihat lobang kubur. (ay.7-9)
Seandainya ada ramuan yang
sangat mahal yang bisa membuat seseorang hidup selamanya di bumi ini, maka
orang-orang kaya tentulah sudah akan membelinya.
Namun tidak ada ramuan
seperti itu, dan harta tidak dapat dipakai sebagai alat tawar-menawar di
hadapan Allah sebagai pengganti hidup (nyawa).
Kekayaan memiliki
keterbatasan. Dengan kekayaan kita bisa membeli apapun, tapi bukan umur.
(2) Kekayaan anda
tidak dapat pergi bersama anda
sebab pada waktu matinya semuanya itu tidak akan dibawanya serta,
kemuliaannya tidak akan turun mengikuti dia. (ay17)
Orang kaya dan orang mulia
hanya sementara saja di bumi ini. Saat meninggal, mereka akan sama dengan orang
miskin dan papa, tidak ada satupun hartanya yang bisa dibawa serta.
(3) Kekayaan anda
bukanlah UNTUK dinikmati diri sendiri
Sekalipun ia menganggap dirinya berbahagia
pada masa hidupnya, sekalipun orang menyanjungnya, karena ia berbuat baik terhadap dirinya sendiri, … tidak akan melihat
terang untuk seterusnya. (ay.18-19)
Ada orang-orang kaya yang
menggunakan kekayaannya hanya untuk kesenangan dirinya sendiri, dan tidak
berbagi kebahagiaan dengan orang-orang lain yang membutuhkan.
Pemazmur menggambarkan
sikap semacam ini dengan istilah “Ia berbuat baik terhadap dirinya sendiri”
(bukan berbuat baik terhadap orang lain).
Ini seperti Danau Laut Mati yang tidak ada satupun makhluk yang bisa hidup di dalamnya, karena danau ini hanya menerima aliran air, dan tidak memiliki aliran keluarnya.
(4) Kekayaan tanpa
pengertian spiritual adalah sebuah kesia-siaan
Manusia, yang dengan segala kegemilangannya tidak mempunyai pengertian, boleh
disamakan dengan hewan yang dibinasakan.
(ay.20)
Kita boleh menjadi seorang
raja, atau menjadi orang yang terkaya di dunia ini, namun tanpa pengertian
spiritual, keberadaan kita hanya akan berakhir di lubang kubur, di mana tubuh
kita akan hancur, sama seperti hewan yang mati. Sungguh kehidupan yang sia-sia.
Adanya pengertian spiritual-lah yang membedakan manusia dengan binatang, dan inilah yang mendorong kita membangun relasi dengan Allah, sehingga membuat hidup menjadi bermakna.










Comments
Post a Comment