WARTA MINGGU, 21 FEBRUARI 2021

  Hari ini, kita mengadakan ibadah ucapan syukur buat gereja kita. Ibadah ini  biasa kita lakukan setiap memasuki tahun baru. Mengucap syukur buat gereja kita adalah sesuai dengan perintah Tuhan Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (I Tesalonika 5:18) Kita seringkali gagal melihat kebaikan Tuhan buat gereja kita, karena tidak mengambil waktu untuk bersyukur untuk apa yang Tuhan sudah kerjakan di gereja kita.

  Apa yang kita syukuri? Rancangan indah Tuhan, sebagai bukti kasihNya, yang sudah ia genapi melalui pelayanan departemen2 yang ada di gereja kita. Lihatlah klip kesaksian departemen yang ditampilkan di ibadah hari ini. (akan ditampilkan juga dalam ibadah online/ daring 2 minggu ke depan) Tentunya, kita tidak ingin cuma tahun ini saja melihat kasihNya nyata melalui rancangan-rancangan indahNya di gereja kita. Kita rindu terus mengalami karena itulah yang terbaik dan dibutuhkan yang Tuhan sediakan untuk kita terus maju dan bertumbuh.

  Kalau kita rindu terus mengalami kasih Tuhan yang sempurna, kita harus meresponi kasih Tuhan dengan menjadi murid yang mengasihi. Mengapa? Tuhan Yesus menetapkan hukum utama buat kita yang percaya adalah “HUKUM KASIH”-

37… "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. 39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. 40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Tauratdan kitab para nabi. Matius 22:39-40

 Kita harus menjadi murid yang mengasihi untuk meresponi kasih Tuhan. 

  Pertama, menjadi murid yang mengasihi Tuhan. Ini sudah dibahas dalam pemberitaan firman minggu lalu. Tetapi, murid yang mengasihi bukan cuma mengasihi Tuhan tetapi mengasihi sesama seperti dirinya sendiri. Tidak mungkin kita mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan bila tidak diikuti dengan mengasihi sesama kita yang kelihatan. (1 Yohanes 4:20)  

  Ada 2 hal yang kita harus bahas berhubungan dengan perintah ini. Pertama, APAKAH KITA MAMPU MENGASIHI SESAMA SEPERTI DIRI SENDIRI? Banyak yang mengatakan tidak mampu, apalagi bila sesama tersebut adalah orang yang jahat dan tidak menyenangkan. Dengan kekuatan sendiri, kita tidak mampu mengasihi. Tetapi dengan kasih Tuhan, yang Ia sudah nyatakan kepada kita, pasti bisa. Itulah sebabnya, FirmanNya menegaskan bahwa,” Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” (I Yohanes  4:19)

 Hal kedua yang kita harus mengerti adalah- BAGAIMANA MEMPRAKTEKKAN MENGASIHI SESAMA SEPERTI DIRI SENDIRI? Firman menjelaskan caranya- “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita.” (1 yohanes 3:16) Menyerahkan nyawa seperti yesus bukan berarti kita harus mati dikayu salib seperti Dia. Tetapi semangat “berkorbanNya” kita teladani. Apa tujuan pengorbananNya? Membebaskan kita dari segala kejahatan dan menguduskan/membentuk menjadi umat yang suka berbuat baik (Titus 2:14)

 Mengasihi sesama bukan sekedar berbuat baik dan menolong, walaupun ini bagian dari mengasihi. Tetapi, ketika kita mengasihi sesama seperti diri kita sendiri. Kita meneladani semangat berkorban Kristus untuk menolong sesama kita mengalami kebebasan dari hal jahat.  Dan, yang sama pentingnya, menolong mereka bertumbuh dalam kekudusan menjadi umat yang suka berbuat baik sehingga menjadi kesaksian dimanapun berada.






















Comments

Popular posts from this blog

Warta Minggu, 10 Mei 2026

Warta Minggu, 02 November 2025