WARTA MINGGU, 25 OKTOBER 2020
Sifat yang diinginkan pada seseorang ialah kesetiaannya;lebih baik orang miskin dari pada seorang pembohong.”- Amsal 19:22
( Disadur dari tulisan lama Pdt. John M. Chandra )
Menjadi kuat adalah salah satu hal yang dirindukan oleh banyak atau bahkan semua orang. Begitu pula Tuhan mau kita menjadi kuat dalam segala hal termasuk dalam hal bersekutu dengan saudara seiman kita. Walau sayangnya, yang terjadi masih banyak yang kebalikannya. Bukannya semakin kuat dalam persekutuan banyak orang Kristen yang semakin dipecah belahkan dengan sesama saudara seimannya. Itu sebabnya bulan ini kita akan diingatkan terus tentang pentingnya persekutuan, baik persekutuan dengan Tuhan maupun dengan saudara seiman.
Persekutuan yang kuat tidak terjadi begitu saja tetapi harus dibangun. Kalau kita mau mempunyai persekutuan yang kuat kita harus membangunnya dengan dua karakter yang kita temukan dalam ayat diatas. Ayat yang terdapat di kitab amsal ini menyebutnya sebagai karakter yang diinginkan oleh banyak orang yaitu “KESETIAAN” dan “KEJUJURAN”. Kesetiaan dan kejujuran adalah modal yang terkuat dari sebuah persahabatan atau persekutuan.
Mazmur Daud mengatakan betapa beratnya
jika persahabatan atau persekutuan dilukai, lihatlah ucapan-ucapan Daud dalam
nyanyian pengajarannya Mazmur 55:12-14, “kalau
musuhku yang mencela aku, aku masih dapat menanggungnya;kalau pembenciku yang
membesarkan diri terhadapa aku, aku masih dapat menyembunyikan diri terhadap
dia. Tetapi engkau orang yang dekat dengan aku, temanku dan orang
kepercayaanku; kami yang bersama-sama bergaul dengan baik, dan masuk rumah
Allah di tengah-tengah keramaian…”. Sangat berat hatinya menghadapi
ketidak-setiaan teman atau sahabatnya. Itu sebabnya , mari kita menjadi
orang-orang yang ditemukan oleh saudara seiman kita sebagai orang yang setia
dan jujur. Apakah itu kesetiaan dan kejujuran?
KESETIAAN DIUJI OLEH
PERSOALAN
Kesetiaan artinya tidak meninggalkan
sahabat anda sekalipun situasinya sulit, terutama saat kesusahan. Dalam dunia
ini, persahabatan menghadapi ujian berat ketika seseorang ditinggalkan orang
bukan karena kesalahannya, melainkan karena ia jatuh miskin, jatuh dalam usaha,
dan sebagainya. Masyarakat materialistis memiliki ciri “ menjauhkan orang yang
gagal.” Tapi ini bukanlah persahabatan yang diinginkan Tuhan.
Mari teladani Tuhan dalam kesetiaan.
Jadilah sahabat dalam kesusahan dengan menunjukkan kesetiaan kita kepada teman
yang sedang mengalami musibah. Bagaimanakah kita menunjukkan kesetiaan kita?
Kita bisa mulai dengan tetap mendoakannya. Tetap bergaul dengannya, adalah hal
yang tidak kalah penting yang bisa kita harus lakukan sebagai bukti dari
kesetiaan dalam persekutuan.
BERKATA JUJUR KEPADA SAHABAT
Kejujuran berarti tidak mengatakan yang
tidak benar tentang saudara kita kepada
orang lain. Firman berkata,” Jangan
mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu” (Keluaran 20:16) Perkataan yang
tidak benar tentang kawan kita selalu menimbulkan luka yang tidak mudah
diobati- “orang yang bersaksi dusta
terhadap sesamanya adalah seperti gada, atau pedang, atau panah yang tajam”
(Amsal 25:18). Secara umum, seseorang mau
bergaul dengan kita atas dasar kepercayaan. Jadi sangat melukai jika
ternyata kita mengatakan yang tidak benar tentang dia. Ingatlah selalu bahwa
persahabatan harus dibangun atas dasar kejujuran, barulah persahabatan
bertahan. Tetaplah setia dalam persahabatan dan terus meperkuatnya dengan
kejujuran.
Sekalipun kita telah membangun 2
karakter diatas, bukan berarti kita bebas atau aman untuk tidak dilukai dalam
persekutuan atau persahabatan. Untuk itu kita harus juga terus memperlengkapi
diri dengan kesiapan berada di posisi”
yang dilukai” dan bukan “yang melukai”. Tuhan
telah menetapkan untuk kita terus
siap meneladani jejaknya- "Sebab untuk itulah kamu dipanggil,
karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan
bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.” (1 Petrus 2:21).
Mari berdoa kita agar Tuhan menjagai
jalan hidup kita. Kalaupun terjadi, kita tidak mau menjadi orang yang akan
membalas melukai. Kita siap berkorban dengan membalas kejahatan dengan kebaikan
seperti yang diperintahkan Tuhan.- “ Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah
kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah,
sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut
pembalasan, firman Tuhan. 20 Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan;
jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara
api di atas kepalanya. 21 Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi
kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan! “ Roma 12:19-21













Comments
Post a Comment