WARTA MINGGU, 14 JUNI 2020
Kesepian
adalah sebuah kondisi dimana seseorang merasa tidak ada teman, tidak ada orang
yang dapat diajak berbagi. Dalam kondisi itu, mudah timbul rasa stress ataupun
depresi dan kehilangan semangat hidup. Hal ini sudah menjadi perhatian Allah
saat permulaan penciptaan, dalam Kej. 2 : 18 Allah berfirman :”Tidak baik kalau
manusia itu seorang diri saja……”. Lalu dikatakan Allah menciptakan segala
binatang hutan dan burung di udara , dan dibawa kepada manusia untuk melihat
dan menamainya. Sampai di sini manusia masih tetap merasa kesepian, meskipun
dunia saat itu sudah ramai. Terakhir Allah menciptakan seorang perempuan, maka
Adam tidak merasa kesepian lagi.
Belajar
dari Kej. 2 :18-25 , kita bisa terbebas dari rasa kesepian dengan 3 sikap ini :
Kej.
2:20 “… tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan
dia.” . Saat itu Adam hanya seorang diri ditemani banyak binatang , tetapi
tidak ada manusia lain. Hari ini kita sudah ditemani banyak manusia lain, atau
sebagian sudah ada istri atau suami dan anak. Mengapa masih banyak orang merasa
kesepian ? Mungkin kita perlu mencermati kata “sepadan” .
Sepadan
artinya sebanding , mempunya nilai yang sama, seimbang. Tentu saja arti
ini harus dilihat dari seluruh aspek kehidupan yang luas. Dalam hidup ini,
hampir semua orang pasti berhubungan dengan lebih dari 100 orang yang dikenal,
kalau masih merasa kesepian, berarti tidak menemukan orang yang nilainya sama
dengan kita, apakah tidak ada orangnya ? Atau memang kita yang harus koreksi
terhadap nilai-nilai kita yang salah.
Suami-istri adalah pasangan yang paling tepat
untuk kehidupan yang sepadan, karena memang mereka dipersatukan Allah, akan
tetapi juga yang terkadang sulit untuk sepadan, karena terlalu dekat. Karena
itu segera satukan nilai-nilai , bukan istri ikut nilai-nilai suami atau suami ikut
nilai-nilai istri, tetapi sama-sama pakai pikiran dan perasaan Kristus, nilai-nilai yang
sudah tertulis dalam Firman Allah.
Saya
membayangkan seandainya kita mau menciptakan sebuah komunitas di planet Mars,
pasti yang terpikir oleh kita adalah membawa serombongan orang dari bumi pindah
ke sana. Ternyata Allah terlalu kreative untuk dimengerti, Dia tidak
memindahkan satupun anggota surga ke bumi. Ia juga tidak sekaligus menciptakan
sekelompok manusia , sebagian di Afrika, sebagian di Eropa, sebagian di Asia.
Allah
menciptakan Adam, dan mengambil tulang rusuk dari Adam untuk menciptakan Hawa.
Ketika Adam melihat Hawa , dalam ay 23 ia berkata : “Inilah dia, tulang dari
tulangku dan daging dari dagingku……”. Allah menciptakan Hawa sebagai bagian
yang tidak terpisahkan dari Adam, Hawa adalah bagian dari hidup Adam. Kemudian
beranak cuculah mereka memenuhi bumi, semua umat manusia adalah bagian dari
Adam.
Ketika
mata kita terbuka untuk melihat orang lain sebagai bagian dari diri kita, dunia
kita akan indah, kita dapat menerima orang lain dalam hidup kita.
Istri
saya pernah cerita kalau ada temannya yang sangat suka mengetahui urusan orang
lain, tapi tidak pernah mau cerita soal urusan dia sendiri. Bergaul dengan tipe
orang seperti ini tentu tidak enak bukan ?
Pada
point di atas, kita sudah siap menerima orang lain dalam hidup kita, tetapi
apakah kita juga siap diterima oleh orang lain ? Banyak orang hanya ingin
terlihat baik, terlihat bagus, terlihat kuat, karena itu mereka berusaha
menutupi bagian hidupnya yang tidak baik, bagian yang tidak elok, bagian yang
lemah.
Dalam
ay 25 dikatakan : Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi
mereka tidak merasa malu. Rasa malu lah yang membuat kita tidak berani terbuka.
Ketika manusia berdosa , timbullah rasa malu, sehingga perbuatannya perlu
ditutupi. Persis sama ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, sejak itu mereka
sudah berpakaian, mereka tidak terbuka lagi, bahkan mereka berusaha menghindar
dari Allah.
















Comments
Post a Comment