WARTA MINGGU, 24 MEI 2020


Alkitab lebih banyak membicarakan tentang sukacita daripada kebahagiaan. Dalam Alkitab Terjemahan Baru (LAI) menunjukkan kata “sukacita” muncul 225 kali, sedangkan “bahagia” hanya 43 kali. Perbedaan yang cukup signifikan ini bukanlah hal yang kebetulan, pasti Allah memiliki maksud. Sukacita mencakup bahagia, tetapi tidak sebaliknya. 

Gambaran Alkitab tentang sukacita sangat berbeda dengan gambaran populer tentang bahagia. Banyak orang mengaitkan kebahagiaan dengan kesenangan dan kenyamanan yang bersumber dari situasi hidup yang baik. Tidak demikian dengan konsep Alkitab tentang sukacita, orang Kristen tetap dapat bersukacita di tengah berbagai ujian hidup yang menyusahkan. Kita bahkan bermegah di dalam penderitaan (Rom 5:3). 

Jika memang sukacita Kristiani begitu luar biasa seperti itu, mengapa ada banyak orang yang mengaku Kristen dan rajin beribadah tetapi hidupnya terbelenggu oleh kesedihan, kekecewaan, dan kepahitan? Bagaimana menikmati sukacita yang sejati?

Hari ini kita akan membahas sukacita Kristiani dalam Filipi 1:3-5. Filipi adalah surat yang memuat kata “sukacita” sebanyak 14 kali. Lebih menariknya lagi, surat yang dipenuhi nuansa sukacita ini ditulis oleh Paulus pada saat ia berada di dalam penjara (1:12-13). 

Di dalam penjara Paulus tidak dapat pergi dengan leluasa. Ia selalu berada dalam pengawalan ketat para sipir penjara. Apa yang paling dia sukai, yaitu berkeliling dari kota ke kota untuk memberitakan injil, tidak bisa dilakukan lagi. Dia pun berada di dalam ketidakpastian, entah dia akan dibebaskan atau dijatuhi hukuman mati (1:20-24). 

Bagaimana Paulus dapat merasakan sukacita yang besar di tengah situasi yang begitu sukar? Filipi 1:3-5 mengajarkan tiga rahasia.




  Orang yang selalu memikirkan kebaikan Allah akan bersukacita. Ia akan selalu memiliki alasan untuk memuji Allah. Tidak heran Daud mengajak jiwanya untuk memuji TUHAN sambil mengingat semua kebaikan-Nya (Mzm 103:2). Sebaliknya, banyak orang terbelenggu oleh kesedihan karena mereka hanya memikirkan apa yang belum mereka miliki atau dapatkan. Mereka lupa menghitung apa yang mereka sudah dapatkan dari Allah. Mereka hanya terpaku pada hal-hal yang menurut mereka buruk, tetapi mengabaikan hal-hal yang baik dari Allah.
     Paulus mampu melihat banyak kebaikan Allah di tengah penderitaan yang ia alami. Dijebloskan ke dalam penjara karena tidak bersalah memang tidak mengenakkan, tetapi Paulus bersukacita sebab hal itu telah memungkinkan pemberitaan injil kepada pejabat penjara dan istana serta keluarga mereka (1:12-13). 
    Kegigihannya dalam memberitakan injil juga menyemangati orang-orang Kristen lain untuk berani memberitakan injil (1:14). Bahkan Ketika ada orang yang berusaha memperberat bebannya di dalam penjara melalui pemberitaan injil yang tidak tulus, Paulus tetap memandang situasi tidak ideal itu sebagai kebaikan karena bagaimanapun Kristus tetap diberitakan (1:17-18). 
     Hanya mereka yang menjadikan Allah sebagai pusat hidup mereka yang akan menikmati sukacita. Meletakkan pusat hidup pada hal-hal yang sementara akan berakhir dengan kekecewaan, kesedihan, dan penyesalan.  
Paulus tidak hanya memandang kepada Allah. Ia juga memperhatikan orang lain. Sukacitanya muncul dari perhatian yang tulus untuk jemaat Filipi. Paulus tetap bersukacita atas setiap jemaat dan atas setiap peristiwa yang terjadi. Sama seperti ia berusaha menemukan kebaikan ilahi di setiap situasi sulit yang ia hadapi, demikian pula ia berusaha mencari kebaikan-kebaikan dalam diri orang lain. Padahal tidak semua ingatan tentang gereja di Filipi adalah positif.

 Pada awal pelayanan di sana Paulus menghadapi penganiayaan (1:29-30; Kis 16). Jemaat Filipi juga bukan jemaat yang sempurna. Ada perselisihan yang sedang terjadi (2:1-4, 14-15; 4:10). Bahaya sesat dari pihak ajaran Yahudi juga sedang mengancam (3:1-3). Walaupun demikian, Ketidaksempurnaan orang lain tidak menghalangi ucapan syukurnya bagi orang itu. Ketidaksempurnaan situasi tidak mencegah dia untuk bersukacita.

Sebagian orang kehilangan sukacita karena terlalu berkutat dengan diri mereka sendiri. Pekerjaan yang tidak lancar, situasi rumah yang tidak ideal, kondisi kesehatan yang buruk, dan hal-hal lain, yang membuat kita kesulitan menemukan alasan untuk bersyukur dan bersukacita. Mulailah memandang ke sekeliling! Ucapkan syukur atas keberhasilan orang lain. Bersukacita dengan orang lain yang bersukacita.

Jemaat Filipi memang secara konsisten mengambil bagian dalam pelayanan Paulus dalam bentuk pemberian bantuan. Bagaimanapun situasi pelayanan Paulus, mereka siap memberi dukungan (1:7). Pada saat menulis surat ini pun, Paulus baru saja menerima bantuan materi dari mereka melalui Epafroditus (2:25). Bantuan ini tentu saja bukan yang pertama (4:15-18). Apa yang mereka lakukan untuk pemberitaan injil sudah cukup menjadi alasan bagi Paulus untuk bersukacita. 

Mengapa hidup bagi perluasan injil merupakan alasan untuk bersukacita? Tujuan hidup manusia adalah Kristus. Mati atau hidup tidak masalah, yang penting kemuliaan Kristus dinyatakan (1:20). Cara berpikir seperti di atas sudah cukup menjadi alasan untuk dia bersukacita.








Comments

Popular posts from this blog

Warta Minggu, 10 Mei 2026

Warta Minggu, 02 November 2025