Alkitab lebih banyak membicarakan tentang sukacita daripada
kebahagiaan. Dalam Alkitab Terjemahan Baru (LAI) menunjukkan kata “sukacita”
muncul 225 kali, sedangkan “bahagia” hanya 43 kali. Perbedaan yang cukup
signifikan ini bukanlah hal yang kebetulan, pasti Allah memiliki maksud. Sukacita
mencakup bahagia, tetapi tidak sebaliknya.
Gambaran Alkitab tentang sukacita
sangat berbeda dengan gambaran populer tentang bahagia. Banyak orang mengaitkan
kebahagiaan dengan kesenangan dan kenyamanan yang bersumber dari situasi hidup
yang baik. Tidak demikian dengan konsep Alkitab tentang sukacita, orang Kristen
tetap dapat bersukacita di tengah berbagai ujian hidup yang menyusahkan. Kita
bahkan bermegah di dalam penderitaan (Rom 5:3).
Jika memang sukacita Kristiani
begitu luar biasa seperti itu, mengapa ada banyak orang yang mengaku Kristen
dan rajin beribadah tetapi hidupnya terbelenggu oleh kesedihan, kekecewaan, dan
kepahitan? Bagaimana menikmati sukacita yang sejati?
Hari ini kita akan membahas sukacita Kristiani dalam Filipi
1:3-5. Filipi adalah surat yang memuat kata “sukacita” sebanyak 14 kali. Lebih
menariknya lagi, surat yang dipenuhi nuansa sukacita ini ditulis oleh Paulus
pada saat ia berada di dalam penjara (1:12-13).
Di dalam penjara Paulus tidak
dapat pergi dengan leluasa. Ia selalu berada dalam pengawalan ketat para sipir
penjara. Apa yang paling dia sukai, yaitu berkeliling dari kota ke kota untuk
memberitakan injil, tidak bisa dilakukan lagi. Dia pun berada di dalam
ketidakpastian, entah dia akan dibebaskan atau dijatuhi hukuman mati (1:20-24).
Bagaimana Paulus dapat merasakan sukacita yang besar di tengah situasi yang
begitu sukar? Filipi 1:3-5 mengajarkan tiga rahasia.
Orang yang selalu memikirkan kebaikan Allah akan bersukacita. Ia
akan selalu memiliki alasan untuk memuji Allah. Tidak heran Daud mengajak
jiwanya untuk memuji TUHAN sambil mengingat semua kebaikan-Nya (Mzm 103:2). Sebaliknya,
banyak orang terbelenggu oleh kesedihan karena mereka hanya memikirkan apa yang
belum mereka miliki atau dapatkan. Mereka lupa menghitung apa yang mereka sudah
dapatkan dari Allah. Mereka hanya terpaku pada hal-hal yang menurut mereka
buruk, tetapi mengabaikan hal-hal yang baik dari Allah.
Paulus mampu melihat
banyak kebaikan Allah di tengah penderitaan yang ia alami. Dijebloskan ke dalam
penjara karena tidak bersalah memang tidak mengenakkan, tetapi Paulus
bersukacita sebab hal itu telah memungkinkan pemberitaan injil kepada pejabat
penjara dan istana serta keluarga mereka (1:12-13).
Kegigihannya dalam
memberitakan injil juga menyemangati orang-orang Kristen lain untuk berani
memberitakan injil (1:14). Bahkan Ketika ada orang yang berusaha memperberat
bebannya di dalam penjara melalui pemberitaan injil yang tidak tulus, Paulus
tetap memandang situasi tidak ideal itu sebagai kebaikan karena bagaimanapun
Kristus tetap diberitakan (1:17-18).
Hanya mereka yang
menjadikan Allah sebagai pusat hidup mereka yang akan menikmati sukacita.
Meletakkan pusat hidup pada hal-hal yang sementara akan berakhir dengan
kekecewaan, kesedihan, dan penyesalan.
Paulus tidak hanya memandang kepada Allah. Ia juga memperhatikan
orang lain. Sukacitanya muncul dari perhatian yang tulus untuk jemaat Filipi. Paulus
tetap bersukacita atas setiap jemaat dan atas setiap peristiwa yang terjadi.
Sama seperti ia berusaha menemukan kebaikan ilahi di setiap situasi sulit yang
ia hadapi, demikian pula ia berusaha mencari kebaikan-kebaikan dalam diri orang
lain. Padahal tidak semua ingatan tentang gereja di Filipi adalah positif.Pada awal pelayanan di sana Paulus menghadapi penganiayaan (1:29-30; Kis 16). Jemaat Filipi juga bukan jemaat yang sempurna. Ada perselisihan yang sedang terjadi (2:1-4, 14-15; 4:10). Bahaya sesat dari pihak ajaran Yahudi juga sedang mengancam (3:1-3). Walaupun demikian, Ketidaksempurnaan orang lain tidak menghalangi ucapan syukurnya bagi orang itu. Ketidaksempurnaan situasi tidak mencegah dia untuk bersukacita.
Sebagian orang kehilangan sukacita karena terlalu berkutat dengan diri mereka sendiri. Pekerjaan yang tidak lancar, situasi rumah yang tidak ideal, kondisi kesehatan yang buruk, dan hal-hal lain, yang membuat kita kesulitan menemukan alasan untuk bersyukur dan bersukacita. Mulailah memandang ke sekeliling! Ucapkan syukur atas keberhasilan orang lain. Bersukacita dengan orang lain yang bersukacita.
Jemaat Filipi memang secara konsisten mengambil bagian dalam
pelayanan Paulus dalam bentuk pemberian bantuan. Bagaimanapun situasi pelayanan
Paulus, mereka siap memberi dukungan (1:7). Pada saat menulis surat ini pun,
Paulus baru saja menerima bantuan materi dari mereka melalui Epafroditus
(2:25). Bantuan ini tentu saja bukan yang pertama (4:15-18). Apa yang mereka
lakukan untuk pemberitaan injil sudah cukup menjadi alasan bagi Paulus untuk
bersukacita. Mengapa hidup bagi perluasan injil merupakan alasan untuk bersukacita? Tujuan hidup manusia adalah Kristus. Mati atau hidup tidak masalah, yang penting kemuliaan Kristus dinyatakan (1:20). Cara berpikir seperti di atas sudah cukup menjadi alasan untuk dia bersukacita.







Comments
Post a Comment