WARTA MINGGU, 17 MEI 2020
Apa reaksi
saudara, setelah membaca tema kotbah ini? Saya pribadi, ketika merasa dituntun Roh
Kudus menggunakan tema ini, awalnya sedikit “terkejut”. Mengapa? Judul ini bisa
menimbulkan pemikiran bahwa ada kekuatan yang lebih berkuasa dari Allah sehingga
bisa menggerakanNya melakukan sesuatu. Tetapi, akhirnya, saya yakin bahwa Allah
yang kita kenal di dalam nama Tuhan Yesus Kristus adalah serba “maha”-maha
kuasa, maha tau, maha hadir dan segala “maha” lain yang bisa ditambahkan. Tidak
ada yang bisa memerintahNya bertindak. Namun, Tuhan
mengatakan bahwa Ia menghargai orang yang mempunyai sikap berserah dan percaya
kepadaNya dengan bertindak meresponi penyerahan tersebut. Apakah tindakan-tindakan
Tuhan menjawab sikap berserah dan percaya kepadaNya?
Ada
tiga tindakan utama Allah:
Tuhan mau
menuntun orang yang berserah-tidak mengandalkan pengertian sendiri dan rindu
dalam tingkah laku mempermuliakan Tuhan (Amsal 3:5 Percayalah kepada TUHAN
dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. 6
Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.). Tuhan tau
cara menuntun agar kita selalu dalam kebenaran dan mengalami keberartian hidup.
(Yohanes 14:6; Mazmur 16:11) Perlu diingat, ketika Ia menuntun, ini
bukan berarti semua jalan kita lancar, tetapi - ... 4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah
kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan
tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku (Mazmur 23:3b-4.)
Tuhan berjanji ketika kita menyerahkan perbuatan
kita, maka Ia mau memampukan untuk dapat melaksanakan. (Amsal 16:3- Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka
terlaksanalah segala rencanamu) Bahkan Ia menjanjikan Dia bisa memampukan
dalam segala perkara (Filipi 4:13 Segala perkara
dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku)
Namun, dalam “menyerahkan” perbuatan kita bukan sekedar berdoa sebelum
melakukan sesuatu, tetapi meminta apapun yang kita lakukan biar sesuai
kehendakNya.
Ketika kita menyerahkan segala kekuatiran
kepada-Nya, Ia bertindak untuk memelihara. (1 Petrus 5:7- Serahkanlah segala
kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu) Kuatir muncul
karena kita sebagai manusia yang terbatas sedang menghadapi situasi di luar
kendali kita. Pemeliharaan Tuhan tidak
menjanjikan kita tidak mengalami hal yang tidak menyenangkan atau di luar
kendali. Tetapi, apapun yang kita harus lewati, Tuhan memastikan Ia ada disana
memelihara atau mencukup kita dengan apapun yang kita butuhkan.
Sekarang,
apakah itu sikap berserah dan percaya kepadaNya?
Sederhananya adalah “melakukan berserah tanpa syarat”. Masih banyak orang
percaya mengatakan Tuhan saya berserah kalau Tuhan melakukan “ini atau itu”
untuk meyakinkan saya. Kita meminta Tuhan menyembuhkan dulu baru kita percaya
dan menyerahkan hidup kita. Atau, meminta Tuhan memberkati dulu dengan
pekerjaan, atau mendapatkan “orderan” dulu baru kita percaya.
Sadrakh,
Mesakh, dan Abednego memberikan contoh yang luarbiasa tentang sikap berserah. Saat
menghadapi ancaman hukum mati dengan dibakar hidup-hidup karena tidak mau menyembah
patung buatan raja nebukadnezar, mereka mengatakan bahwa mereka percaya Tuhan
bisa melepaskan mereka. Namun, mereka mengatakan lebih lanjut, bahwa sekalipun
Tuhan tidak menyelamatkan, kami tidak akan memuja dewanya raja. Dengan kata
lain, mereka berserah dan percaya penuh kepada Tuhan, apapun yang terjadi.
Inilah penyerahan dan percaya kepadaNya.








Comments
Post a Comment